Header Ads

Suara Perempuan Menggema di Titik Nol Yogyakarta dalam IWD 2026

 

Panggung Rakyat International Women’s Day 2026 (Sumber: Dania Putri Saskia)

Yogyakarta, Sikap - Massa komunitas perempuan dan ragam gender menggelar panggung rakyat untuk memperingati International Women's Day (IWD) 2026 di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Minggu (8/3/2026) sore. Kegiatan ini lahir dari keresahan atas terbatasnya ruang aspirasi bagi perempuan dan ragam gender, yang kerap tersisih bahkan dalam ruang aktivisme yang didominasi laki-laki.


Orasi membara, puisi, dan seni gerak hadir di panggung aliansi komunitas perempuan. Kim selaku Koordinator Lapangan menekankan solidaritas interseksional “Setiap pengalaman hidup politis, waktunya bersuara!” Tukasnya.


Acara dimulai sejak sore hari dan berlangsung hingga malam, dengan perkiraan 100-200 massa termasuk penampil. Aktivitas utama meliputi orasi tentang kesejahteraan perempuan, pembacaan puisi yang terinspirasi demonstrasi perempuan di Halmahera Tengah, serta diskusi isu kekerasan. “Saya buat puisi tadi karena berdasarkan kejadian demonstrasi perempuan di desa Sagia, Halmahera Tengah, yang didiskriminasikan polisi saat menolak tambang ilegal,” Ungkap Saway selaku penampil puisi.


Isu yang disuarakan mencakup hak perempuan pekerja, jurnalis, migran, disabilitas, transgender, dan pekerja seks, termasuk upah rendah di Yogyakarta, perlindungan dari kekerasan seksual, serta patriarki. Beberapa dari kelompok rentan juga mengungkapkan keresahannya, diantaranya perempuan disabilitas menuntut fasilitas inklusif seperti Juru Bahasa Isyarat (JBI), sementara transgender meminta akses Kartu Tanda Pengenal (KTP) dan perlindungan dari diskriminasi. Tuntutan utama adalah kenaikan upah, bantuan sosial, penegakan regulasi anti-kekerasan seksual, serta realokasi anggaran pemerintah untuk kesejahteraan perempuan.


Kim mengharapkan agar panggung rakyat seperti ini dapat menjadi ruang yang lebih representatif bagi teman-teman dari perempuan dan ragam gender sehingga bisa mengangkat ketertindasannya. Selaras dengan tema yang diusung pada IWD 2026 yakni “Perempuan Hempaskan Penindasan”.


Peserta pekerja Encus menambahkan “Akhir-akhir ini kekerasan malah gak berkurang, apalagi pembunuhan terhadap perempuan. Itu salah satu yang harus kita suarakan,”. Encus juga mengungkapkan bahwa massa merespons antusias terhadap orasi dan puisi, dengan dinamika damai meski ada rasa risih dari pandangan media arus utama atau warga lokal.


Terkait pengamanan, salah satu polisi yang bertugas, Muhammad Amzika Tama mengungkapkan bahwa pengamanan melibatkan sekitar 45 personel polisi sejak pukul 14.30 WIB, yang menyebar untuk antisipasi kerumunan, kegiatan berjalan sangat kondusif setelah adanya koordinasi sebelumnya. (Anggun Ayu Olivia, Yuwita Nurmala Ahsanu, Dania Putri Saskia, Rahma Aulia, Septia Virginia Marpaung, Aisyah Fitri Amalia)


Editor: Pelangi Aulia Ramadhani Augusta



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.