Header Ads

Seni Gerabah Kasongan Tak Akan Mati

Yogyakarta menjadi tempat yang asyik untuk berburu pengalaman wisata. Segala jenis wisata mulai dari wisata kuliner, wisata belanja, wisata alam, sampai desa wisata bisa menjadi pilihan. Keberadaan desa wisata menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang mengunjungi Yogyakarta. Masing-masing desa wisata memiliki ciri khas tersendiri, baik karena kekhasan kerajinan, bangunan, maupun tradisi yang ada di desa wisata tersebut.

Kerajinan gerabah Kasongan.
Salah satu desa wisata yang terkenal dengan kerajinannya adalah Kasongan. Kasongan berada di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berjarak kurang lebih 7 km ke arah selatan Kota Yogyakarta. Sangat mudah bagi wisatawan yang akan mengunjungi Kasongan, dari Jalan Bantul terus ke selatan sampai bertemu gerbang Kasongan di sebelah kanan jalan. Gerbang ini berupa gapura besar berwarna merah yang diapit dua patung kuda. Sepanjang jalan masuk terdapat showroom-showroom di pinggir jalan mengiringi wisatawan ketika masuk ke dalam gapura.

Kasongan terkenal akan berbagai macam kerajinan gerabah dan tembikar. Gerabah adalah perkakas-perkakas yang dibuat dari tanah liat melalui proses pembakaran. Berawal dari membuat mainan anak-anak yang sederhana, saat ini Kasongan justru berkembang menjadi desa wisata. Banyaknya kundi (pengrajin gerabah) yang ada di Kasongan membuat gerabah yang ada saat ini memiliki berbagai keunikan. Keunikannya terlihat dari bentuk yang simetris, abstrak, dan kombinasi antara keduanya. Ukurannya pun beragam tergantung jenis gerabah yang dibuat, bisa juga karena permintaan pemesan. 

Salah satu pemilik toko gerabah di Kasongan, Sihono menjelaskan kreasi gerabah yang diproduksinya. “Gerabah merupakan seni kerajinan yang sudah ada sejak zaman dulu. Sebelum ada model-model modern seperti sekarang, gerabah hanya dibentuk gambar sederhana, seperti cekokan-cekokan dari jari telunjuk,” jelasnya.

Proses membuat gerabah tidaklah mudah. Setidaknya ada dua metode yang menyertainya. Pertama, gerabah dibuat dengan cara dicetak menggunakan mal atau cetakan yang telah ada. Sedangkan metode kedua, gerabah dibuat langsung dengan tangan tanpa menggunakan cetakan. Cara pembuatan gerabah langsung dengan tangan tanpa bantuan cetakan seringkali menjadi sensasi tersendiri bagi wisatawan yang ingin eksplorasi belajar membuat gerabah.

Mulanya, adonan tanah liat diletakkan di atas alat berupa tumpukan kayu berbentuk lingkaran yang bagian atasnya bisa diputar. Bagian awal ini yang menentulan pola gerabah yang ingin dibuat. Selanjutnya dengan bantuan jari jemari gumpalan tanah liat dengan cepat, cekatan dibentuk sesuai keinginan pembuatnya. Tidak mudah membuat gerabah ini, tangan kiri berfungsi menahan bentuk luar sembari memutar kayu, sementara tangan kanan berfungsi membentuk pola yang semakin lama semakin tinggi sesuai pola yang diinginkan. Setelah dicetak, gerabah dikeringkan dengan cara diangin-anginkan seperlunya dengan hati-hati agar gerabah tidak mengalami keretakan. Hasil cetakan tersebut kemudian dijemur dibawah sinar matahari untuk menghilangkan kandungan air yang ada di gerabah.

Langkah selanjutnya gerabah dibakar dengan tungku dan jerami supaya wujudnya menjadi padat, keras, dan kuat. Pembakaran dengan tungku memang membutuhkan biaya mahal tetapi hasilnya lebih baik dan merata.

Setelah wujud kerajinan tanah liat ini terbentuk dengan baik, masuklah ke tahap finishing. Gerabah dipoles sedemikian rupa supaya menarik sehingga bisa bersaing dan memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi.

Kian Mendunia
Kasongan telah mendunia karena gerabahnya. Kerajinan ini membawa nama Kasongan sampai mancanegara. Produk-produk gerabah seperti vas, tempat makan, interior, sampai mozaik pajangan diekspor hingga Australia, Eropa dan Asia. 

Salah satu pemasok kerajinan gerabah yang dieskpor ke negara lain ialah Kaboel Craft. “Kalau minat wisatawan dari Asia sendiri sama saja, kita malah kebanyakan melayani daerah Eropa, seperti Spanyol dan Perancis yang paling banyak. Kalau Australia ada beberapa,” tutur Agung, pengelola Kaboel Craft.

Dengan perkembangan ini dapat dilihat peningkatan yang sangat signifikan seperti semakin banyaknya pembeli dari luar negeri. Desain, bentuk, dan finishing gerabah yang dibuat lebih modern dan mengikuti selera pasar saat ini. Walaupun Kasongan sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat baik itu dari segi desain, finishing, maupun bentuk namun masih banyak juga pengrajin yang masih mempertahankan konsep tradisional juga seperti kiren, cinglo, tempat gudeg, maupun celengan.

“Ada yang langsung membeli gerabah yang sudah jadi, juga ada yang menawarkan desain untuk kita buat. Walaupun kita bekerja di seni, tapi kita harus tetap mengikuti selera konsumen agar nantinya tidak tertinggal,” ujar Agung, salah seorang pengelola showroom gerabah di Kasongan.

Showroom yang ada di Kasongan memiliki ciri khas tersendiri pada masing-masing produk gerabahnya. Meski begitu, umumnya gerabah yang dipamerkan di sana merupakan hasil karya para kundi di sekitaran kawasan Kasongan. Jadi tidak semua pemilik showroom memiliki tempat produksi sendiri.

Seperti yang diungkapkan Tya, penjaga Linglang Craft bahwa produksi gerabah di tokonya tidak selalu dilakukannya sendiri, melainkan juga berasal dari masyarakat sekitar pada proses pencetakan tanah liatnya. Nantinya proses finishing sepenuhnya dilakukan oleh rumah produksi. Hubungan yang terjalin antara para kundi dan pemilik showroom memang seperti simbiosis mutualisme, saling menguntungkan satu sama lain.

Seni gerabah memiliki esensi keunikan tersendiri dari tahun ke tahun. Seperti yang dikatakan oleh Sihono, seorang kundi yang menekuni gerabah sejak kelas enam sekolah dasar. Saat ini ia mengaku bahwa yang dicari oleh kolektor-kolektor gerabah merupakan gerabah yang memiliki pola lekukan klasik. Lekukan-lekukan yang sederhana pada permukaan gerabah berupa garis-garis tipis dan mencerminkan gerabah zaman dahulu. Bukan yang modern dan yang memiliki motif rumit, justru gaya gerabah tempo dulu lebih disukai oleh sebagian besar pengoleksinya. Menurut Sihono seni gerabah merupakan hasil karya hasta (tangan) yang sederhana tetapi ngangeni. 

Meski begitu, menurut Agung, saat ini minat wisatawan asing dan domestik terhadap Desa Wisata Kasongan mulai lengang, sudah tidak seramai dahulu. Ia menilai hal ini dikarenakan munculnya krisis global, serta pemerintah yang kurang berpartisipasi dalam menggalakkan promosi di kasongan sehingga para pengrajin pun kena imbasnya. Saingan dari negara tetangga pun ikut mempengaruhi seperti Thailand, Filipina,dan Vietnam yang unggul dari segi desainnya yang lebih modern, serta harga yang lebih terjangkau. 

“Harapannya semoga Desa Wisata Kasongan ini bisa berjaya lagi seperti pada tahun 2000-an awal dan 90-an akhir, karena ketika itu ekspor masih dimudahkan, pembeli sangat banyak, dan bahan mudah dicari. Serta pemerintah bersedia membantu dan lebih mempromosikan desa ini sehingga pemasarannya dapat meningkat,” tutup Agung.

Eksistensi dari gerabah akan selalu dipertahankan karena merupakan seni kerajinan yang sudah turun-temurun. Keberadaannya pun mampu menghidupkan setiap lekuk tanah melalui tangan kundi-kundi yang tak pernah lelah. Seperti memiliki nyawa, karena pada akhirnya gerabah tersebut memiliki tuan-tuan tersendiri. Para kundi berharap, ke depannya Kasongan bukan hanya menjadi desa wisata penghasil rupiah, tetapi juga desa wisata pelindung seni gerabah. (Dian Puspita, Laras Dika Youlanda, Novella Candra Wastika)

Editor: Lajeng Padmaratri
Diberdayakan oleh Blogger.