Header Ads

Fosil Kayu Purba, Bisnis yang Menjanjikan di Tengah Persaingan Gerabah Tanah Liat

Showroom Griya Selo yang menawarkan fosil kayu purba. (Foto: Karina Maharani)
Bagi beberapa perajin, fosil kayu purba bisa bernilai ekonomi tinggi untuk bahan kerajinan. Material ini berasal dari batang pohon yang membatu karena tertimbun tanah di kedalaman puluhan meter selama beratus-ratus tahun. Jika dipoles dengan baik, fosil kayu bisa terlihat seperti marmer yang berkilau.

Di tengah sentra industri gerabah di Desa Wisata Kasongan, terlihat sejumlah toko yang mencoba berbeda dengan menawarkan kerajinan kayu. Di sudut jalan dekat gerbang masuk, tampak sebuah showroom dengan papan nama “Griya Selo Petrified Wood Art Gallery”. Galeri sekaligus toko ini menggunakan fosil kayu sebagai bahan baku kerajinannya. Tak kalah dengan kerajinan gerabah dari tanah liat, fosil kayu pun sudah memiliki pelanggan dari berbagai negara. 

Berbagai kreasi dari bahan baku fosil kayu purba ditawarkan di sini. Mulai dari dekorasi interior, meja, kursi, mozaik cermin, cangkir, tempat lilin, beberapa jenis produk lainnya. Sejak empat tahun lalu, galeri ini memasarkan produknya di dalam dan luar negeri melalui sistem penjualan langsung maupun online. Meski memiliki showroom di Kasongan, namun Griya Selo lebih berfokus pada kegiatan ekspor, karena peminat kayu purba ini rata-rata berasal dari luar negeri. 

Beberapa produk berbahan kayu purba. (Foto: Fajar Isusilaning Tyas)
Penggunaan bahan baku fosil kayu yang langka membuat pelanggan yang ingin membeli furnitur di tempat ini harus merogoh kocek yang cukup dalam. Harga jual produknya mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Contohnya cangkir kayu purba yang dipatok seharga Rp300.000, kursi kayu purba seharga Rp1.800.000, dan meja kayu purba seharga Rp9.000.000. 

“Untuk penjualan tidak menentu, terkadang sepi terkadang ramai. Namun, dalam satu kali pesanan biasanya kita bisa menerima 25 juta hingga 100 juta rupiah,“ ujar Tono sang karyawan toko, saat ditemui reporter Sikap di tokonya beberapa waktu lalu. 

Produksi fosil kayu purba di Griya Selo mengedepankan nilai estetika dan artistik, sehingga hal tersebut menjadi faktor kerajinan ini dicari banyak orang. Kesan elegan ditimbulkan berasal dari proses ilmiah. Struktur kayunya memang sudah mengeras menyerupai batu, namun tekstur kayunya masih terjaga. Wujud itu membuat furnitur yang dihasilkan terlihat seperti batu marmer yang terkenal dengan kemewahannya. Hal ini membuat bisnis fosil kayu purba ini menjadi bisnis yang menjanjikan. Terlebih di Indonesia masih banyak fosil kayu purba yang tertimbun di dalam tanah, sehingga bisa dimanfaatkan dengan baik untuk membantu meningkatkan perekonomian masyarakat. 

“Kenapa jualan disini? Karena pengen beda dari yang lain. Lagipula ini kan barang yang unik, antik. Jadi sekalian mau mengenalkan tentang kerajinan ini ke wisatawan yang datang ke Kasongan,” jelas Tono. 

Keunikan serta kualitas yang ditawarkan membuat Griya Selo dapat bertahan di tengah sentra gerabah. Memilih untuk menjadi berbeda tidak menjadi sebuah halangan, melainkan dapat menjadi sebuah tantangan jika dibarengi strategi yang baik untuk meraih kesuksesan dengan optimal. (Karina Maharani & Fajar Isusilaning Tyas)

Editor : Lajeng Padmaratri
Diberdayakan oleh Blogger.