Header Ads

Buktikan Kreativitas Lewat Karya Seni Limbah Besi

Kreativitas dan ide-ide cemerlang menjadi salah satu faktor untuk membuka usaha baru di tengah tingginya persaingan kegiatan perekonomian di Indonesia. Selain harus memiliki modal finansial, dua aspek di atas turut menjadi yang utama, karena saat ini jenis usaha di Indonesia kian menjamur. Maka dari itu untuk menjadi yang lebih unggul, ide dan kreativitas perlu diutamakan. 

Ide bisa berasal dari hal yang sepele, yang mungkin orang lain tidak akan sadari menyimpan peluang usaha dari hal tersebut. Diiringi dengan kreativitas yang dimiiliki, maka ide tersebut akan menghasilkan usaha yang menjanjikan. Salah satu usaha yang berdiri dengan adanya ide cemerlang dan kreativitas dari pemiliknya yaitu Vintage and Recycled Iron. Usaha ini menjual furnitur dan aksesoris-aksesoris dari barang-barang daur ulang seperti drum dan besi. 


Logam berat besi lumrah digunakan sebagai barang penuh manfaat bagi manusia. Karakteristiknya yang solid, kuat, dan awet sudah mendukung berbagai sendi kehidupan manusia sejak tahun 1500 Sebelum Masehi. Namun besi pun mengancam lingkungan ketika menjadi limbah. Bersama pestisda, batu baterai, dan oli bekas, besi termasuk ke dalam limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Berangkat dari keresahan akan keselamatan lingkungan, James mulai menekuni bisnis Vintage and Recycled Iron.



Terletak di Desa Wisata Kasongan yang kaya akan kerajinan gerabah, Vintage and Recycled Iron berdiri dengan penuh sentuhan seni. Aura vintage yang ditawarkan oleh toko ini, sangat mencuri perhatian pengunjung. Patung merah raksasa yang terletak di depan pintu masuk, seakan mengajak wisatawan untuk datang mengunjungi toko.


Patung dari besi di depan toko Vintage and Recycled Iron. (Foto: Ganisha Puspita)
Kreatif, adalah kata pertama yang tersirat setelah masuk ke dalam toko ini. Dengan gaya vintage yang ditawarkan, Vintage and Recycled Iron berhasil mengubah limbah besi menjadi barang-barang seni yang menakjubkan. Mulai dari lukisan, robot, hingga bangku, semua terbuat dari limbah besi yang didaur ulang.



Ketika ditemui di showroom-nya di Kasongan, James (40) selaku pemilik usaha ini berkisah awalnya memiliki ide untuk membuka usaha dengan membuat green product, yaitu mengubah sampah menjadi produk-produk yang bernilai tinggi. “Awal mula idenya itu, dari keresahan saya terhadap limbah-limbah bekas produksi. Awalnya saya ingin memanfaatkan limbah kayu, akan tetapi terlalu banyak kendala yang dihadapi, akhirnya saya memutuskan menggunakan besi, terutama besi bekas oil drum untuk menjadikannya sebagai media seni,” tuturnya.

Produk “Vintage and Recycle Iron” yang ada di toko. (Foto: Faya Lusaka)
Anak bangsa yang berasal dari pinggiran Danau Toba ini memulai usahanya sejak tahun 2011. Dengan ide kreativitas dan uang modal awal sekitar 18 juta rupiah yang telah dikantongi, James mulai merintis usahanya dengan menjual produk di Jepara. Akan tetapi meskipun demikian dalam membangun usahanya ini, tentu saja James mengalami jatuh bangun terlebih dahulu. Dua tahun setelah usaha berdiri, usaha yang buka di Jepara ini terpaksa harus tutup karena mengalami kerugian. 

Dengan tekad yang penuh, akhirnya James mencoba bangkit kembali dengan membuka tokonya di Yogyakarta dengan memilih kawasan Desa Wisata Kasongan sebagai pilihannya. Padahal Kasongan terkenal sebagai kawasan industri gerabah, sehingga usaha James menjadi satu-satunya usaha yang menjual produk recycle. Namun pemilihan Kasongan sebagai lokasi usaha bukan tanpa alasan. Hal ini dikarenakan Kasongan merupakan kawasan wisata, sehingga banyak dikunjungi wisatawan yang dapat menjadi target pemasaran produknya. 


Produk Vintage and Recycled Iron. (Foto: Ganisha Puspita)
Setelah kerja kerasnya selama tujuh tahun membangun usaha ini, sekarang James mulai menuai hasilnya. Dengan kenaikan permintaan setiap bulannya, omzet yang didapatkan pun melonjak drastis. Setiap bulannya Vintage and Recycled Iron dapat memperoleh omzet 100juta rupiah. Bahkan James sudah memiliki banyak pelanggan tetap dari mancanegara yang menjual kembali barang-barannya di luar negeri. Seperti salah satunya Wood and Steel, toko dekorasi rumah yang terletak Perancis. Setiap tiga bulan sekali, pemilik toko Wood and Steel, datang ke Indonesia untuk membeli koleksi seni milik James, yang kemudian akan dijual kembali di negaranya.


Tidak hanya kreatif dalam menciptakan produk-produk daur ulang, ia juga memiliki ide kreatif untuk mem-branding produknya keluar. Supaya produk usahanya dikenal kalangan luas, James memilih pameran sebagai batu loncatannya.


Produk-produknya ini seringkali diikutkan pameran, baik yang berada di dalam maupun luar negeri. Untuk dalam negeri, produk Vintage and Recycle Iron ini selalu berada di pameran International Furniture Product yang diadakan di Jakarta setiap tahunnya. Untuk luar negeri, James sempat mengikuti pameran yang ada di Jerman dan Prancis.


Produk untuk toko Wood and Steel di Perancis. (Foto: Ganisha Puspita)
Hasil karya James, bisa dibilang unik dan sangat ­instagram-able. Tidak heran jika produk milik Vintage and Recycled Iron sering mendapat pesanan dari hotel maupun cafĂ© di Indonesia maupun mancanegara. Usaha produk daur ulangnya bisa diekspor sebanyak 90% sedangkan sisanya 10% dijual di dalam negeri. Produk-produk ini banyak diekspor ke luar negeri seperti Prancis, Jepang, dan Korea karena luasnya ruang seni di negara-negara tersebut. Untuk dalam negeri, usaha ini lebih banyak laku di pasaran Bandung, Yogyakarta, dan Bali sebagai kota yang erat dengan seni dan budaya. Produk-produk daur ulang ini diubah menjadi kerajinan dan dijual dengan kisaran harga mulai dari 180 ribu hingga 5,2 juta rupiah. Tergantung dari kesulitan produksi hingga banyaknya bahan yang dipakai.

“Saya ingin buat besi-besi ini tidak hanya untuk recycle tapi up-cycle. Tidak cuma berakhir di pabrik-pabrik jadi wadah air tapi barang yang bernilai seni dan daya jual tinggi,” tutur James. (Ganisha Puspita, Faya Lusaka, Nabila Rosellini)

Editor : Lajeng Padmaratri
Diberdayakan oleh Blogger.