Header Ads

Dua Sutradara Bagikan Suka-Duka Proses Produksi

Ada yang berbeda dalam momen peluncuran film baru Avikom pada Sabtu (27/10) lalu. Beberapa ornamen yang mendukung suasana art gallery yaitu sepeda-sepeda tua yang dipajang pada art space dan juga dua stand yang mengilustrasikan kamar tidur dan toko kecil. Stand ini menunjukkan latar tempat yang digunakan untuk pengambilan gambar saat produksi film. Terlihat juga pemakaian baju tahun ‘60-an oleh panitia yang memberi nuansa baru pada acara The Premiere 2018 ini, karena pada acara-acara biasanya anggota Avikom selalu menggunakan baju kerja.

The Premiere 2018 ingin menunjukkan bahwa acara ini merupakan momen utama untuk peluncuran karya film, serta menjadi utama juga untuk orang-orang yang datang melihatnya. “The Premiere 2018 sendiri memiliki arti utama dan pertama kali di-launching. Kita memaknai The Premiere sendiri sebagai ajang show off dan ajang realisasi proses pembelajaran temen-temen baik itu di dikjut maupun di angkatan. The Premiere karyanya, juga The Premiere orang-orang yang dateng” jelas Awal Ramadhan, koordinator acara saat ditemui pascaacara.

Tidak ada patokan khusus untuk jumlah film yang diluncurkan setiap tahunnya. Tahun ini Avikom memiliki momentum yang pas karena terselesaikannya dua film yang diproduksi sehingga jumlah film yang diluncurkan sejumlah dua. Kedua film ini menunjukkan kreativitas anggota-anggota Avikom yang bekerja selama kurang lebih empat bulan dalam produksinya.

Gandung, Keresahan Sosial yang Terkemas
Film Gandung (Don’t Let My Son Know) yang disutradarai oleh Amallia Putri Budi Utami resmi diluncurkan pada The Premiere 2018. Film ini merupakan film angkatan 2016 Avikom. Film ini menceritakan tentang seorang ayah bernama Gandung yang memiliki hutang 50 juta rupiah, namun dirinya tidak memiliki penghasilan. Ia hanya bekerja sebagai tukang parkir di minimarket Yono. Padahal setiap harinya minimarket tersebut tidak mendapat pembeli. Isu yang diangkat pada film ini adalah hubungan antara sosok ayah dengan anak dan hubungan antara adik dengan kakak.

Sesi diskusi film Gandung. (Foto: Dian Puspita)
Amalia menjelaskan bahwa judul Gandung diambil dari sosok protagonis yang berperan dalam film. Sosok protagonis ini adalah sosok yang memiliki dimensi pada film. Pemilihan kata “gandung” sendiri dirasa lebih cocok karena "gandung" memiliki arti sesuatu yang membuat seimbang. Sehingga ia berpendapat bahwa "gandung" cocok digunakan untuk judul karyanya kali ini. 

Pada film Gandung ini terlihat perbedaan yang menonjol dibanding film Avikom yang kerap mengangkat tema budaya, karena Amalia ingin menunjukkan masalah personal. Masalah personal ini berasal dari keresahan Amalia terhadap apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari dan lebih condong ke isu sosial.

Film Gandung yang disutradarai oleh perempuan membuat proses produksi tak lepas dari banyaknya rintangan yang dialami. “Sutradara kebanyakan mungkin cowok, dan tidak sebanding dengan sutradara cewek. Masalah utamanya ada pada emosi, karena ya masalah perasaan cewek lebih dominan kan. Cuma yang bisa menjadi kelebihannya adalah kita di sini sebagai cewek menjadi sutradara maka merasa memiliki power,” ujarnya. 

Ia menilai selama ini Avikom memproduksi jenis-jenis film yang belum begitu variatif. Amalia berharap Avikom tidak hanya fokus pada karya yang diproduksi saja, akan tetapi nantinya bisa memproduksi film-film yang berani, misalnya horor sampai thriller. Amallia juga menambahkan karena Avikom adalah Audio Visual Komunikasi, dan bukan Film Komunikasi, maka ia berharap bahwa nantinya Avikom bisa memproduksi iklan-iklan, video clip, juga film-film eksperimental yang lebih berbeda untuk kedepannya.

Shridevi, karena Padi yang Hidup 
Film Shridevi (For What Has Given) yang disutradarai oleh Annisa Finnuala Aprilia atau akrab disapa Afa ini merupakan film dikjut 2017 Avikom. Film bertema budaya ini menceritakan tentang seorang petani bernama Karyo. Konflik bermula ketika hasil panen padinya mengalami penurunan dari beberapa tahun belakangan. Karyo mengira hal tersebut dikarenakan tradisi wiwitan sudah tidak dilaksanakan lagi di kampungnya. Namun karena Sri, anak dari Karyo sakit parah dengan tiba-tiba, ia pun yakin dengan tradisi wiwitan yang tidak lagi dilaksanakan dapat mempengaruhi kehidupannya. Karyo pun mengusahakan untuk melakukan kembali tradisi wiwitan di kampungnya.

Sesi diskusi film Shridevi. (Foto: Dian Puspita)
Film Shridevi merupakan film ketiga yang digarap oleh Afa. Meski begitu, ia merasa bahwa dalam film Shridevi inilah ia benar-benar baru merasa perannya sebagai seorang sutradara. Alasan Afa mengambil isu tentang tradisi wiwitan ini pun dikarenakan hal tersebut sudah jarang dilakukan oleh masyarakat lokal yang bekerja sebagai petani. Tidak seperti dulu yang sering sekali dilakukan. 

“Menjadi seorang sutradara tentunya bangga. Aku merasa bertanggung jawab, tetapi aku juga merasa khawatir, karena temen-temen juga yang membantu proses produksi jadi aku khawatir kalau mereka tidak puas dengan hasilnya. Jadi ya aku takut mereka kecewa. Karena banyak sekali tantangan saat memproduksi film ini,” jelasnya. 

Bukan merupakan orang asli Yogyakarta tidak membuat Afa menjadi pesimis akan cerita yang diambilnya, yaitu tradisi wiwitan. Segala usaha dilakukan untuk melengkapi data-data yang dibutuhkan. Mulai dari mencari narasumber yang relevan sampai menentukan tempat untuk pengambilan gambar. Lokasi-lokasi yang ditentukan pun tidak asal, melainkan lokasi yang benar-benar cocok untuk proses shooting. Berbagai macam rintangan dilaluinya sebagai sutradara. 

Harapan Afa sebagai sutradara adalah film Shridevi ini menjadi pintu gerbang selanjutnya dalam prosesnya membuat film. Bukan menjadi proses yang terakhir bersama teman-teman Avikom, karena di Avikom tidak hanya kelompok yang diutamakan akan tetapi juga membangun diri sendiri lebih baik lagi. (Dian Puspita)

Editor : Kiki Luqman
Diberdayakan oleh Blogger.