Header Ads

Berhenti Ekspor, Fokus Jual Gerabah di Pasar Lokal

Supermarket kerajinan milik Eko Purwanto ramai dikunjungi pembeli. (Foto: Ayu Fitmanda Wandira)
Dari sekian banyak toko di Kasongan, salah satu toko yang mengusung konsep supermarket handycraft adalah toko Dwiyanto Keramik. Tidak hanya barang - barang dari gerabah yang dijual di sini, namun juga tersedia berbagai macam kerajinan lainnya. "Kita tetap menyediakan kerajinan selain gerabah agar tersedia banyak pilihan. Gerabah kita buat sendiri, sedangkan kerajinan lain kita ambil dari berbagai tempat. Tapi fokus tetap pada gerabah, karena pada dasarnya Desa Kasongan ini memang terkenal dengan gerabahnya," jelas Eko Purwanto, pemilik toko. 

Saat ditemui di sela-sela aktivitasnya menjaga toko, Eko berkata, "Dulu orang tua hanya berjualan alat-alat keperluan rumah tangga seperti panci, kendi, dan tempat beras." Kini keragaman produk tersebut berkembang pesat, tak hanya mengedepankan fungsional namun juga estetika. 

Meskipun hanya meneruskan usaha gerabah dari orang tua, pria berusia 31 tahun ini terus berusaha mengembangkan usaha ini. "Dari tahun ke tahun semakin maju, kita juga harus semakin inovatif dan kreatif," tuturnya. Lambat laun mulai ada guci, dari yang awalnya catnya hanya biasa, sekarang sudah berkreasi dengan finishing yang menggunakan tempelan pasir, tempelan kaca, juga dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumah ikut diolah. Kuning telur, pelepah pisang, rotan, juga dijadikan bahan untuk membalut berbagai kerajinan yang ada. 

Dengan kerja kerasnya serta dibantu empat orang karyawan, kini tokonya sudah memiliki cabang lain bernama Dwiyanto Keramik 2 yang juga berada di Desa Kasongan, namun toko cabang itu hanya menyediakan kerajinan khusus untuk prasmanan. “Toko-toko di sini selalu ramai pada akhir pekan. Seperti hari ini, ada dua bus yang barusan datang, ini pengunjung dari Surabaya. Kalau masa liburan ramainya tiap hari, terlebih pada libur Natal dan tahun baru," ungkap pria asli Bantul tersebut. 

Eko Purwanto, pemilik toko. (Foto: Ayu Fitmanda Wandira)
Suka Duka Menjalani Bisnis Gerabah
Gerabah tidak hanya menarik minat wisatawan lokal, namun juga mancanegara. "Enaknya dapat orderan dari orang Barat, sekalinya mereka order dan mereka percaya pada kita, mereka akan sangat percaya. Biasanya akan datang orderan-orderan selanjutnya. Misalkan sebulan bisa sampai lima kontainer, itu udah kontrak perbulan, harus tercukupi lima kontainer," jelas lelaki yang sudah menggeluti bisnis gerabah sejak berumur 18 tahun. 

Terbiasa mendapat pemesanan dari luar negeri tidak serta merta membuat orang yang menggeluti bisnis gerabah ini selalu untung. "Biasa dapat orderan dari Amerika, Australia, Irlandia, juga beberapa negara lain. Tapi terakhir ekspor gerabah itu pada tahun 2012. Setelah gempa di tahun 2006, kita mulai meminimalisir pengiriman ke luar negeri," ungkapnya. 

Eko mengatakan bahwa alasan ia memutuskan untuk fokus pada penjualan lokal saja karena tidak mau menanggung resiko yang terlalu besar. "Misalnya, ada yang barang return (barang yang tidak sampai, red), padahal kita sudah mengirimkan barangnya, itu hitungannya kita tidak dibayar. Pembeli tidak mau tahu, kalau barang yang dipesan tidak sampai, ya tidak dibayar. Padahal sebenarnya kita sudah mengirimkan barang, tapi barangnya kemungkinan besar rusak di perjalanan. Barangnya tetap disana, uangnya tidak dibayar. Rugi, bisa bangkrut kalau terus menerus seperti itu," paparnya. 

Tidak hanya menerima pemesanan secara individu atau per toko saja, terkadang para pemilik usaha gerabah juga mendapat pemesanan secara bersama. "Ada pemandu yang mengarahkan para wisatawan, biasanya wisatawan luar ke toko-toko yang ada di Desa Kasongan ini. Misalnya, di toko kita mereka order 20 boks, di toko sebelah juga 20 boks, tanggal sekian sudah harus dikirim. Kalau saya biasanya kontainernya di mana, saya antarkan barang saya ke kontainer. Jadi pemandunya akan mengirimkan barang dari beberapa toko sekaligus. Pemandu tersebut dapat fee 10 % dari total harga barang." paparnya. 

"Harga kerajinan di toko ini sekarang berkisar antara Rp10.000 - Rp1.000.000. Harga yang satu juta rupiah itu seperti guci dan meja. Kerajinan gerabah termasuk pecah belah. Gerabah itu tanah liat yang mentahannya dulu diambil dari Godean. Namun berhubung tanah Godean sudah banyak berkurang dan juga sudah ada larangannya, sekarang banyak yang mengambilnya di Dlingo, Mangunan," jelas pemilik toko tersebut. 

Meskipun Desa Kasongan terkenal dengan gerabahnya, namun dari semua kerajinan yang ada di toko Dwiyanto Keramik ini, yang sekarang paling dicari di pasaran adalah mebel dari kayu dan bambu karena bukan termasuk barang yang pecah belah. 

Selain menjadi tujuan wisata untuk berbelanja, toko ini juga menyediakan pusat pelatihan belajar gerabah. Mulai dari SD, SMP, SMA, hingga dari berbagai instansi turut menjadikan tempat tersebut sebagai destinasi belajar. "Kita menyediakan pelatihan pembuatan gerabah dan finishing. Biasanya sepaket pelatihan itu 50 peserta. Peserta akan diajarkan bagaimana proses pembuatan gerabah serta dikenalkan pada alat-alatnya. Jika ingin, peserta juga boleh mencoba langsung," jelasnya. 

Tiap peserta hanya perlu membayar Rp15.000 jika hanya ingin mengikuti pelatihan pembuatan gerabah dan Rp20.000 jika hanya mengikuti pelatihan finishing. "Lebih murah kalau sekaligus (pelatihan pembuatan gerabah dan finishing, red), cukup bayar Rp25.000 saja. Jadi lebih hemat," tutupnya pada sesi temu Sabtu lalu. (Ayu Fitmanda Wandira)

Editor: Lajeng Padmaratri
Diberdayakan oleh Blogger.