Header Ads

Membentuk Personal Branding Ala Gus Mul


Pimred Mojok.co, Agus Mulyadi (paling kiri) bersama Syarif Acil (tengah) dan Sandra (kanan) selepas memberikan materi dalam Talkshow EPIC #2. (Foto: Ida Nur A.)
Bicara tentang pengenalan diri, agaknya tidak setiap orang memilikinya. Padahal hadirnya media digital sangat membantu setiap individu untuk mengembangkan personal branding. Beberapa tahun belakangan ini, beberapa instansi maupun individu sudah berlomba-lomba untuk eksis di media, baik media konvensional maupun sosial. Mereka menjadikan media sebagai alat untuk menciptakan citra yang positif di hadapan banyak orang. 

Bagi Agus Mulyadi, setidaknya ada dua cara untuk membangun citra diri, yaitu personal branding yang terbangun secara alami dan personal branding yang diupayakan. “Maksudnya, branding kita itu sebenarnya ada secara alami, namun juga dapat dibentuk sesuai keinginan kita,” papar Pimpinan Redaksi Mojok.co ini ketika menjadi narasumber Talkshow EPIC #2 dengan tajuk Manajemen Branding di Era Digital (12/9) yang diadakan di Ruang Seminar FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta. 

Sebelum dikenal sebagai penulis, ia mengaku dikenal sebagai pakar edit foto. Kerjaannya sebagai penjaga warnet menjadikannya ia seorang editor foto yang setiap hari mengerjakan lebih dari 50 foto. Kepiawaiannya itu bahkan membawanya diundang tampil di televisi sebagai pakar edit foto seperti di program acara Empat Mata Trans 7, TVone, sampai program Ini Talkshow dan The Comment di NET. 

Ia sampai frustasi dengan dirinya yang dikenal dengan tukang edit foto. Agus butuh tiga tahun untuk membranding dirinya sebagai seorang penulis. “Saya itu ingin sekali menghilangkan image saya sebagai tukang edit foto. Butuh waktu tiga tahun lho untuk menghilangkan branding tukang foto edit foto itu. Prestasi saya itu di bidang penulisan buku, jadikanlah tukang edit foto sebagai skandal saja,” imbuhnya sambil tertawa. 

Laki-laki yang sudah menulis tiga buku tersebut memberikan kiat-kiat agar mudah melakukan personal branding dengan baik di era digital. “Nama Agus Mulyadi itu banyak sekali di Indonesia, jadi susah banget untuk lebih dikenal dibandingkan Agus Mulyadi yang lain. Untuk menjadikan saya dikenal masyarakat sebagai penulis dan berbeda dengan kalangan saya, maka saya bikin blog untuk tulisan-tulisan saya, juga medsos seperti Facebook & Twitter. Media tersebut sangat saya rawat, ditata dengan baik. Hal tersebut menjadikan saya lebih terkenal dibanding Agus Mulyadi yang lain. Kalau kalian search di Google saat menuliskan nama Agus Mulyadi, maka yang pertama kali muncul adalah saya,” papar penulis buku Bergumul dengan Gusmul ini. 

Di era ini, media sosial dinilai menjadi hal yang wajib dimiliki dalam membentuk personal branding. Hampir setiap manusia atau instansi memiliki media sosial. Seperti halnya yang dicontohkan oleh laki-laki yang akrab dipanggil Gus Mul, bahwa melalui blog dan media sosial bisa menjadikan seseorang menjadi berbeda dan dikenal di kalangannya. Media sosial zaman sekarang bisa menjadi portofolio yang bagus. “Jangan takut berbeda. Juga media sosial bisa jadi portofolio untuk kerja nanti. Maka rawatlah dengan baik,” lanjut dia.

Citra Nyeleneh 
Bukan hanya dirinya, media tempatnya bekerja juga turut membangun branding yang berbeda di mata publik. Di kalangan pembaca, Mojok.co dikenal sebagai media yang nyeleneh dan cenderung mempublikasikan tulisan satire dalam menanggapi informasi yang sedang berkembang. 

Awalnya, media ini hanya berfokus pada publikasi tulisan. Namun, tuntutan zaman dan perkembangan teknologi menjadikan Mojok.co memilih untuk beradaptasi. Bagi Pemimpin Redaksi Mojok.co tersebut adaptasi menjadi pilihan wajib untuk tetap hidup di era digital ini. Berawal dari tulisan, Mojok.co saat ini merambah ke produksi audio visual. Tak dipungkiri pesatnya perkembangan zaman membuat keinginan penikmat pun pesat pula perubahannya. 

“Sebenarnya Mojok itu sangat lambat beradaptasi dengan teknologi. Dulu hanya menggunakan satu platform dan fokus hanya ke Twitter. Namun era ini banyak orang yang menggunakan Line dan Instagram, juga lebih suka dengan audio visual. Hal inilah menuntut kita untuk beradaptasi, baik itu melalui platform, gaya bahasa, konten, dan humor untuk bisa meraih segmentasi pasar yang ditargetkan. Mojok mau tidak mau harus bebenah,” ungkap Agus saat ditemui selepas acara EPIC #2. 

Meski begitu, proses adaptasi itu tetap perlu mempertahankan ciri khas yang menjadikan suatu hal menjadi lebih dikenal di antara pesaingnya. Seperti yang dituturkan Agus, Mojok mem-branding karyanya dengan infografis yang nyeleneh, pemilihan diksi yang menarik, serta membuat rubrik esai sosial yang diberi punchline

“Inovasi itu bagus tapi inovasi zaman sekarang tidak akan menjadi inovasi zaman yang akan datang. Seperti infografis, dulu yang konsisten dengan infografis adalah Beritagar, namun sekarang sudah banyak media yang menggunakan infografis. Kompas sudah punya divisi sendiri untuk membuat infografis. Jadi setiap media punya ciri khas yang dapat membedakan dengan media lain. Mojok dengan ilustrasi yang nyeleneh, punchline di akhir, dan gaya bahasa,” pungkas pria kelahiran Magelang ini. 

Walaupun sempat ada komplain oleh pembaca lama Mojok.co yang lebih suka ‘gaya lama’, alih-alih gaya media ini sekarang yang cenderung berjiwa muda, tapi Mojok.co tetap berdaptasi untuk menuruti pasar dan meraih segmentasi pembacanya yang berusia 18-24 tahun. (Tiana Riski)

Editor : Lajeng Padmaratri
Diberdayakan oleh Blogger.