Header Ads

Sebuah Pengabdian Kaum Milenial Melalui Atap Senja

Penulisan cita-cita anak Kampung Badran pada kertas origami, Rabu (25/04). (Foto : Laras Dika Youlanda
Baru-baru ini Komunitas Atap Senja mengajak BEM FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta dan FIM (Forum Indonesia Muda) untuk menjadi volunteer di sebuah desa pinggir sungai di tengah Kota Yogyakarta. Tatkala sibuk dengan urusan kuliah, semangat para relawan ini tak pernah padam dalam mewujudkan cita-cita mulianya dalam pengabdian. 

Atap Senja berdiri sejak 18 April 2014. Meski begitu, komunitas ini baru berjalan efektif selama tiga tahun ini karena tahun pertama digunakan untuk merencanakan program kerja yang tepat. Saat ini, ada dua wilayah yang dijamah oleh Atap Senja untuk lokasi pengabdian, yaitu Kampung Gondolayu dan Kampung Badran. Mereka menilai, warga desa di sini hidup di tengah fasilitas pemerintah, tapi masyarakatnya sendiri kurang merasakan manfaatnya. 

Dua hari dalam seminggu dirasa cukup efektif bagi Atap Senja untuk mengabdi, yaitu hari Selasa dan Rabu. Tiap Selasa, para relawan mengajar di Gondolayu, sedangkan hari Rabu di Badran. Volunteer setiap minggunya silih berganti, baik berasal dari internal UPN “Veteran” Yogyakarta maupun eksternal. Hal ini tidak menutup kemungkinan untuk berganti relawan karena banyaknya kesibukan dari berbagai volunteer dan anggota tetap Atap Senja. 

Dalam berkegiatan, biaya tak jadi masalah bagi para anggota dan volunteer komunitas tersebut. “Namanya aja pengabdian masyarakat. Sebagai volunteer kalau masalah biaya, waktu, dan tenaga itu udah nggak bisa dihitung lagi dan nggak usah dihitung-hitung lagi,“ terang Vianza selaku Ketua Komunitas Atap Senja. Berfokus pada pendidikan, Atap Senja tidak mengharapkan imbalan, melainkan sepenuhnya mengabdi. 

Kesabaran benar-benar diuji ketika menjalankan program Atap Senja. Beberapa relawan yang mengajar murid TK hingga SMP menilai bahwa anak-anak zaman sekarang susah diatur dan selalu ingin yang instan. Tidak jarang terjadi perkelahian antar murid. Hal tersebut menjadi lumrah dihadapi oleh para volunteer. Meski begitu, mereka punya cara sendiri untuk menenangkan tanpa menyinggung perasaan anak-anak, yaitu bersikap tegas dan selalu jujur dalam berbicara. Proses itulah yang membuat para relawan tidak hanya mengajar, namun juga belajar dari apa yang mereka berikan kepada anak-anak setiap minggunya.

Relawan membantu anak-anak mengajarkan PR pada sesi kedua. (Foto: Laras Dika Youlanda)
Dengan beralaskan tikar, anak-anak duduk mendengarkan pelajaran yang diberikan. Sesi belajar-mengajar dilakukan pada malam hari pukul 19:00 hingga 21:00 WIB. Satu jam pertama dilakukan untuk menyampaikan materi yang telah disusun. Kemudian, satu jam selanjutnya para relawan membantu anak-anak mengajarkan pekerjaan rumah yang didapat dari sekolahannya. Anak-anak merespon dengan aktif dan tidak malu untuk mengungkapkan pendapatnya. Atap Senja bukan hanya sekadar mengajar materi akademis, namun juga pelajaran moral seperti kedisiplinan dan etika yang sangat penting untuk bergaul di masyarakat luas. 

“Untuk hari ini kan pelajarannya tentang cita-cita. Kita saja yang sudah dewasa tidak tahu ingin jadi apa ke depannya, karena umumnya semakin dewasa kita maka cita-cita semakin tidak jelas. Tapi dari merekalah kita jadi belajar untuk selalu semangat menggapai cita-cita,” kata Fisal Abu Bakar Zain, Ketua Divisi Pengabdian Masyarakat BEM FISIP UPN ”Veteran” Yogyakarta pada kegiatan Rabu (25/04) malam di Kampung Badran.

Ketika ditanya oleh para relawan, cita-cita anak Kampung Badran rupanya beragam. Kepolosan mereka saat menyampaikan impiannya cukup membuat semua yang mendengar tertawa dan ada yang mengamininya. Ada yang ingin jadi model, penyanyi, vlogger, bidan, TNI, hingga pilot. Tidak bisa dipungkiri perkembangan teknologi menjadikan cita-cita anak saat ini beragam, tidak seperti dulu yang sebatas tahu profesi dokter, guru, dan polisi. 

Setiap minggu pula Atap Senja dan para volunteer-nya mengadakan evaluasi terhadap apa yang akan diberikan dan apa yang telah diberikan kepada anak-anak. Hal ini penting agar semua program dapat terkonsep dan anak-anak pun tidak merasa bosan dengan pelajaran yang diberikan. 

“Harapan saya buat Atap Senja yang pertama yaitu harus tetap ada sampai kapanpun, karena warga dan adek-adek yang di sana juga menaruh harapan besar pada kami. Semoga makin jaya, volunteer-nya semakin banyak, dan semoga para mahasiswa terketuk pintu hatinya untuk peka terhadap isu sosial dan lingkungan sekitarnya,” tutur Vianza, Ketua Atap Senja. (Laras Dika Youlanda)

Editor: Lajeng Padmaratri
Diberdayakan oleh Blogger.