Header Ads

'Comclusion' Ajak Mahasiswa Kenali New Media

Edwi Arief Sosiawan sedang memaparkan materinya di atas panggung. (Foto: Adi Ihsan)

Sleman, SIKAP – Pada Kamis (23/11), Magister Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta berhasil menyelenggarakan 'Comclusion' (Communication Solution). Agenda ini mengusung tema Managing Corporate Communication & Digital Media Creative Business. 
      Bertempat di Ruang Seminar Gedung Agus Salim, UPN “Veteran” Yogyakarta, acara tersebut mendatangkan Seto Ajie Wijaya dari PT. Tempo Inti Media, serta Edwi Arief Sosiawan selaku Dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta. Seminar ini dipandu oleh Isabella Sabhrina, seorang presenter dari TVRI.
      Dalam sesi pertama, Edwi membawakan topik mengenai fenomena digital native di masyarakat saat ini. Menurutnya, Instagram menjadi media sosial yang diminati berkat fitur fotografinya. Instagram bersifat visual dan instan, sehingga mudah untuk menggunakannya. Hal ini yang membuat pertumbuhan pengguna Instagram pesat. 
      “Saat ini Indonesia menjadi pengguna (Instagram) terbanyak di dunia, setelah Jepang dan Brazil,” ungkap Edwi. 
      Di sesi ini pula, Edwi sempat mengungkapkan hasil penelitiannya yang berupa pola penggunaan media sosial Instagram. Ia mengatakan bahwa hampir setiap 4 menit sekali, pemilik akun Instagram akan membuka akunnya. 
Seorang pengguna Instagram bisa mengakses media sosial ini selama 8 jam dalam sehari. Jadi, bisa dibilang 4 menit sekali kita buka (Instagram), entah untuk cek pesan atau apa,” terang Edwi. 
Menurutnya, tidak ada lembaga yang mampu mensensor informasi di media sosial. Kebijakan dalam menggunakan media sosial sangat diperlukan. Edwi mengatakan bahwa sangat penting untuk selalu menimbang-nimbang terlebih dahulu jika ingin membagikan suatu informasi. Karena kontrol media sosial itu bermula dari pengguna itu sendiri.
Di akhir kesempatan, ia berpesan agar mahasiswa membiasakan untuk menebar hal positif di akun media sosial, karena media ini dapat mencerminkan pribadi pemiliknya.“Media sosial itu adalah brand dari personal diri kita. Personal positif tentu akan disambut dengan baik oleh masyarakat," pungkasnya. 
Seto Ajie Wijaya ketika menjawab pertanyaan audiens. (Foto: Adi Ihsan)
Di sesi kedua, Seto Ajie Wijaya membuka sesinya dengan mempresentasikan beberapa data dari PT Tempo Inti Media. Ia mengatakan bahwa oplah Tempo pernah turun hingga 20%, hingga menyebabkan pendapatan Tempo menurun.
      Meski begitu, Tempo berusaha untuk bertahan dengan memanfaatkan sektor usaha lain. Melihat kondisi percetakan yang sedang surut hingga membuat banyak percetakan global gulung tikar, Tempo mencoba peruntungaannya untuk mendalami sektor industri kertas. Percetakan kertas di Australia jadi pijakannya. Perusahaan media ini akhirnya meluaskan bisnis dengan mengimpor kertas dari Australia kemudian dijual di Indonesia.
      “Karena banyak tutupnya percetakan di Indonesia, akhirnya banyak yang beli kertas di kita. Saat ini, percetakan Tempo mendapat achieve sebesar 74,1 miliar rupiah, padahal targetnya hanya 50 miliar rupiah,” jelas Seto.
Selain menjelaskan cara Tempo bisa bertahan, Seto juga mengungkapkan mengapa Tempo tidak bisa memberikan berita secara real-time. Ia mengatakan, Tempo memiliki SOP (Standart Operation Procedures) dalam pembuatan berita. Di dalamnya tertuang penjelasan bahwa ketika mendapat sebuah informasi, Tempo tidak serta-merta merilis berita, melainkan mendalami informasi itu terlebih dahulu. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan akurasi data dari informasi tersebut.
      “Misal ada kecelakaan, itu kita harus tau bagaimana perkembangannya, makanya Tempo nggak bisa langsung cepat, karena semuanya harus verified,” ungkapnya.
      Ganis Aryandaru, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2015 mengatakan agenda ini membantunya memahami gambaran tentang new media. "Menurut saya, acara ini memberikan gambaran tentang new media yang bisa dimanfaatkan dalam menunjang kehidupan."
      Sependapat dengan Ganis, Gilang Erdyanata turut memuji pembicara di acara tersebut. "Karena berasal dari media, ia (Seto) bisa bercerita tentang fakta di balik pembuatan berita Tempo," ujarnya.
      Kabarnya, 'Comclusion' akan menjadi agenda rutin bulanan di Ilmu Komunikasi dengan menghadirkan pembicara-pembicara tingkat nasional. (Adi Ihsanuddin)

Editor: Lajeng Padmaratri
Diberdayakan oleh Blogger.