Header Ads

Perjalanan Kreatif Desainer Visual Wajah Buku

Kover jadi daya tarik visual sebuah buku. Tampak tumpukkan buku di Toko Buku Social Agency Baru Godean. (Foto: Lajeng Padmaratri)

      “Jangan nilai buku dari sampulnya.” Agaknya pepatah tersebut tidak berlaku bagi para pegiat sampul buku. Bagi mereka, kover buku yang dikonsep secara menarik akan efektif mengundang publik untuk memiliki interpretasi mengenai konten sebuah buku dan memutuskan untuk membaca isinya.

      Hal inilah yang coba terus dilakukan oleh Hapsoro Ardianto, seorang Kepala Desain Penerbit Bentang Pustaka. Baginya, kover buku merupakan satu kesatuan dari buku itu sendiri, tak bisa dipisahkan dari konten bukunya.

      Tak banyak orang tahu bagaimana proses kreatif di balik perencanaan desain buku. Tahu-tahu, desain kovernya sudah menyebar di berbagai media sosial dan terpajang di rak-rak buku. Padahal, kover buku membutuhkan perencanaan yang rumit.

      “Desain kover buku merupakan hal yang serius,” tegas Adit, sapaan akrabnya. Ia menyampaikan, alur perencanaan desain kover buku bisa memakan waktu yang tak kalah panjang dengan penyuntingan naskah buku. “Bisa satu bulan,” tambahnya ketika menyampaikan materi pada Workshop Artistik Buku di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri Universitas Gadjah Mada, Sabtu (30/09).

Desainer Harus Gemar Baca Buku

      Untuk memahami sketsa sampul seperti apa seorang desainer buku tentu perlu membaca terlebih dahulu isi buku yang hendak ia desain. Selain editor dan korektor naskah, rupanya desainer sampul merupakan pembaca-pembaca awal sebuah buku sebelum dirilis.

      Hal ini senada dengan cuitan Fahmi Ilmansyah, sosok kreatif desain di balik novel “Supernova” karya Dee Lestari, dalam personal blognya beberapa waktu lalu. Ia mengatakan bahwa desainer buku harus gemar membaca. “Anda harus menyukai, dan dengan sendirinya ‘terpaksa’ membaca buku bila ingin menjadi desainer kover buku atau desainer buku karena di setiap penugasan, anda akan mendapatkan setidaknya cuplikan 1 bab buku tersebut,” tulisnya.


Sampul buku karya Fahmi Ilmansyah yang merupakan dua seri terakhir 'Supernova' karangan Dee Lestari. (Foto: Lajeng Padmaratri)

      Adit turut menegaskan hal ini, “Memang idealnya desainer buku membaca naskahnya terlebih dahulu sebelum membuat desain.” Untuk mempercepat proses ini biasanya desainer diberi pedoman dari editor yang berisi informasi mengenai tebal halaman buku, sinopsis, dan identitas penulis.

      Di Bentang Pustaka, desain buku tak hanya dirancang oleh desainer inhouse penerbitan. Mereka membuka kesempatan bagi desainer paruh waktu untuk turut bekerja sama dalam perencanaan desain buku. “Hal ini kita gunakan untuk menangkap keragaman artistik,” ujar Adit. Ia menambahkan, saat ini Bentang Pustaka memiliki sekitar tiga puluh desainer aktif.

      Pemilihan siapa yang pantas mengerjakan proyek desain buku juga disesuaikan dengan genre atau segmen buku tersebut. Buku yang segmentasinya remaja, akan dikerjakan oleh perancang muda karena mereka pasti lebih mengerti tentang pasar remaja.

Diskusi dengan Penulis Buku
      Dalam proses perencanaan sampul, desainer buku biasanya menyiapkan lebih dari satu sketsa. Hal ini supaya konsep yang dibawakan bisa lebih didalami para desainer. Beberapa desainer juga menganggap ide pertama yang keluar dalam sketsa awal dianggap kurang otentik dan mudah ditemukan oleh orang lain. Proses perenungan setelah pembuatan sketsa pertama juga dianggap penting, sebab konsep ide akan lebih matang dan tajam.

      Proses perencanaan desain buku ini tak lepas dari diskusi desainer dengan penulis buku. Meskipun desainer sudah disodori berbagai informasi mengenai buku dan membaca buku tersebut, namun mereka tetap membutuhkan ide-ide yang bisa muncul dari obrolan dengan penulis buku itu sendiri.

      Umumnya, buku fiksi lebih mudah proses eksplorasi ide untuk kovernya dibandingkan buku nonfiksi. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan buku-buku nonfiksi berhasil dikemas dengan desain yang ciamik. Salah satunya ialah buku kisah perjalanan “The Naked Traveler” karya Trinity.

      Desainernya, Febrian Satriawan menuturkan ia perlu berdiskusi dengan penulisnya saat mendesain kover buku. Satria, panggilan akrabnya, merupakan desainer inhouse di Bentang Pustaka. Menurutnya, penceritaan kisah perjalanan Trinity dalam bukunya itu sangat menarik dan segar di antara buku travelling lain. Dalam mendesain kover buku ini, Satria mengaku perlu mendalami karakter penulis dan di samping itu harus membaca isi buku terlebih dahulu.

      “Buku travelling umumnya menampilkan foto daerah dan jenis transportasi, tetapi di buku Trinity, aku tampilkan hal-hal sederhana yang mencerminkan si penulis seperti sandal, kacamata, kaos, dan celana, karena Trinity selalu pakai semua itu tiap travelling,” ujarnya.

Pertimbangan Selera Pasar
      Kover buku melalui proses panjang perencanaan. Selain clue yang diberikan editor, membaca buku itu sendiri, dan diskusi dengan penulis langsung, untuk selanjutnya desainer juga perlu mengetahui siapa segmen pembacanya. Selain itu, tim perancang juga melakukan survei toko buku untuk menganalisis kover yang menarik perhatian. Rak-rak di toko buku sangatlah riuh oleh berbagai desain sampul buku, sehingga perlu kover yang efektif untuk ditujukan bagi segmen yang tepat. 



Riuhnya rak-rak di toko buku dengan berbagai desain sampul. (Foto: Lajeng Padmaratri)

      Bagi pembaca buku, visual kover buku menjadi hal yang dipertimbangkan sebelum memilih buku. Dyar Ayu Budi Kusuma, 21 tahun, adalah salah satunya. “Aku sebenernya lebih memilih buku berdasarkan siapa penulisnya. Tapi, kalau penulis bukunya belum aku kenal, aku memang pilih buku dari kovernya ketimbang baca resensi. Karena menurutku, kover buku itu bisa menampilkan cerita yang ada di dalamnya,” ujar Dyar.

      Kegemarannya membaca buku membuatnya mengikuti beberapa akun penerbit dan penulis favoritnya di media sosial. Seringkali ada penerbit yang meminta pendapat pengikutnya di media sosial dalam penentuan kover buku sebelum merilis buku baru atau buku re-publish. “Seringkali aku ikut kasih pendapat juga di media sosial tentang pilihan kover buku. Meskipun belum tentu minat beli juga akhirnya,” ujar Dyar sambil tertawa.

      Cara ini juga dilakukan Adit dalam Workshop Artistik Buku. Ia memberi bocoran kepada booklovers bahwa serial fenomenal “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata akan dicetak ulang dengan desain baru. Untuk mengetahui selera pasar, ia pun meminta peserta workshop untuk memilih desain yang menurut mereka menarik.

      Selain sebagai sarana promosi buku, hal ini juga dapat menjadi pertimbangan bagi penerbit untuk memlih kover buku sesuai selera pembaca. Sebab, tak bisa dipungkiri keberadaan sampul buku yang menarik dapat memaksimalkan pembelian.

      “Tidak bisa dipungkiri, desain tak hanya jadi fungsi estetik, tapi juga fungsi marketing,” beber Adit. (Lajeng Padmaratri)


Editor : Derry Nur Hidayat
Diberdayakan oleh Blogger.