Header Ads

Jas Almamater dan Seragam Olahraga : Satu Konveksi, Lama Produksi, Telat Distribusi

Suasana penukaran jas almamater dan seragam olahraga di Gedung Ks. Tubun, Senin (30/10). (Foto: Ida Nur Apriani)

Sleman, SIKAP - Pendistribusian jas almamater dan seragam olahraga bagi mahasiswa baru angkatan 2017 baru dilaksanakan mulai Senin, (23/10). Padahal mereka telah melaksanakan agenda PKK pada 14-19 Agustus 2017 dan kuliah pertama pada 21 Agustus 2017 lalu.

      Terjadinya keterlambatan dikarenakan pihak konveksi kesulitan mencari bahan baku almamater dan rumitnya proses pewarnaan. “Dari konveksi karena bahan baku. Bahan baku susah, kain khusus dan warna almamater harus dicelup bersama sekali,” terang Yudi Sutama, selaku Kepala Biro Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan, dan Kerjasama, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta. 

      Tahun ini UPN memproduksi masing-masing 2500 jas almamater dan seragam olahraga. Ternyata, kedua atribut itu hanya dikerjakan oleh satu perusahaan konveksi. Oleh karena itu, keterlambatan dalam proses produksi dikarenakan tidak ada stok jas almamater dan seragam olahraga tahun lalu sebagai contoh produksi.

      Kekecewaan ini diungkapkan beberapa mahasiswa. Salah satunya Mutiasari Faturochmi, mahasiswa baru Ekonomi Pembangunan 2017. “Kecewa. Udah telat, terus lama lagi, kita bingung apa yang salah,” jelasnya. Ia menambahkan, "Alangkah lebih baik jas almamater dipersiapkan di awal agar ketika PKK dapat dipakai sebagai wujud kebanggaan dan cinta terhadap kampus,” tegasnya sambil tersenyum.

      Setiap produksi bahan tekstil, apalagi hingga ribuan, tak heran ada kecacatan dalam setiap pembuatannya. Karena itu,  pihak kampus mengadakan penukaran atribut yang cacat pada (30/10).

      Pada hari Senin, (30/10) mahasiswa bisa menukarkan atributnya yang  mengalami kerusakan dan salah ukuran. “Aku nggak nukar, karena kemarin udah 3x nukar. Sama petugas disuruh ditukar ke teman, tapi nggak ada dan untung dibolehin bapaknya,” jelas Annisa Salsabila Ramadhani. Mahasiswi baru jurusan Ekonomi Pembangunan 2017 ini juga menuturkan bahwa hanya ada ukuran L dan XL, L kecil dan L besar. Serta warna pada lambang UPN berwarna kuning dan orange. 

      Mengenai permasalahan itu, pihak konveksi sudah menyiapkan 1000 stok jas almamater dan seragam olahraga pengganti. Sebagai konsekuensi keterlambatan, mahasiswa tidak mendapat ganti rugi apapun, namun hanya pihak konveksi yang dikenai denda. Awalnya seragam olahraga sudah selesai dikerjakan tanggal 25 September, tetapi diundur setelah UTS agar bersamaan dengan distribusi jas almamater ke mahasiswa.

      Salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi 2017, Agus Heri Pamungkas berkata bahwa ia baru akan mengambil atribut jatahnya. “Teman-teman juga banyak yang salah ukuran dan cacat, sedangkan aku baru mau ambil besok,” ucapnya. Menurutnya pembagian ini juga tidak jelas, antrinya tidak teratur dan datang lalu ambil.

      Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Yudi menjelaskan bahwa tahun depan proses produksinya akan dipisah. “Untuk konveksi seragam olahraga sendiri dan jas almamater sendiri,” jelas pria 55 tahun itu. Tahun ini UPN hanya menerima 2200 mahasiswa, maka sisa atribut akan disimpan konveksi untuk stok tahun depan. (Ida Nur Apriani dan Lajeng Padmaratri)

Editor: Derry Nur Hidayat
Diberdayakan oleh Blogger.