Header Ads

Kesalahan Pemaknaan Idul Fitri

Oleh : Fariha Sulmaihati

Hari Raya Idul Fitri menjadi hari yang sangat ditunggu bagi seluruh umat muslim. Setelah melakukan ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan ramadhan, umat muslim merayakan kemenangan tersebut dengan melakukan tradisi saling memaafkan, berkeliling ke rumah tetangga dan sanak saudara. Serta menghidangkan makanan khusus untuk Hari Raya Idul Fitri. Cara merayakan Idul Fitri berbeda-beda pada setiap daerah, namun memiliki sejarah yang menjadi dasar umat muslim di seluruh dunia merayakan Idul Fitri.


Dalam sejarahnya, asal mula terjadinya Hari Raya Idul Fitri disyari'atkan pada tahun pertama bulan hijriyah, namun baru dilaksanakan pada tahun kedua Hijriyah. Pada masa Rasulullah SAW, di sebuah kota yang terletak di Madinah. Terdapat kaum-kaum Yasyrik yang menggunakan dua hari untuk berpesta dan bersenang-senang semata, yang terkesan lebih berfoya-foya. Kedua hari tersebut dinamakan hari An-Nairuz dan hari Al-Mahrajan dan konon hari itu sudah ada sejak zaman Jahiliyah dulu sehingga menjadi sebuah tradisi yang melekat pada orang Madinah kaum Yasyrik.  

Ketika hal tersebut menjadi sebuah tradisi dan budaya kaum Yasyrik, sampailah kabar tersebut pada Rasulullah SAW. Sehingga Rasulullah ingin mencari tahu, bahwa apa yang sedang mereka lakukan dengan kedua hari tersebut. Kemudian orang-orang Madinah pun menjawab: "Wahai Rasul pada hari ini kami sedang merayakan pesta untuk kesenangan dan kepuasan kita, dan kita akan menjadikan hari ini menjadi sebuah tradisi kita karena hari ini suda ada sejak zaman kaum Jahiliyah". 

Mendengar hal tersebut Rasulullah kaget dan tersentak hatinya untuk menyuruh mereka berhenti melakukan hal yang tidak bermanfaat. Sehingga kemudian Rasulullah berkata kepada kaum Yasyrik tersebut, kalian harus tahu bahwa sesungguhnya Allah menggantikan kedua hari tersebut dengan hari yang lebih baik daripada sekedar berpesta-pesta dan berfoya-foya saja yang hanya akan menjadikan kalian umat yang bodoh yang akan menggunakan waktu dan harta kalian dengan Mubazir atau sia-sia. Sesungguhnya Allah SWT telah mengganti kedua hari tersebut dengan Hari Raya Idul Adha dan Idul Fitri, yang penuh dengan makna dan hikmah-hikmahnya. 

(Sumber: www.portalsejarah.com)
Mendengar hal tersebut Rasulullah kaget dan tersentak hatinya untuk menyuruh mereka berhenti melakukan hal yang tidak bermanfaat. Sehingga kemudian Rasulullah berkata kepada kaum Yasyrik tersebut, kalian harus tahu bahwa sesungguhnya Allah menggantikan kedua hari tersebut dengan hari yang lebih baik daripada sekedar berpesta-pesta dan berfoya-foya saja yang hanya akan menjadikan kalian umat yang bodoh yang akan menggunakan waktu dan harta kalian dengan Mubazir atau sia-sia. Sesungguhnya Allah SWT telah mengganti kedua hari tersebut dengan Hari Raya Idul Adha dan Idul Fitri, yang penuh dengan makna dan hikmah-hikmahnya.

Sedangkan arti Idul Fitri berasal dari dua kata id dan al-fitri. Id secara Bahasa berasal dari kata Adaa – ya’ uudu yang artinya kembali. Hari raya disebut id’ karena hari raya terjadi berluang ulang, dimeriahkan setiap tahunh sedangkan fitri berasal dari kata afthara – yufthiru yang artinya berbuka atau tidak lagi berpuasa. Disebut idul fitri karena Hari Raya dimeriahkan bersamaan dengan kaum muslimin yang yang tidak lagi berpuasa Ramadan.  

Namun Idul Fitri sering sekali dimaknai sebagai kembalinya umat muslim dalam kedaan yang suci, terhapus dari segala dosa. Hal tersebut menjadi kesalahan pemaknaan bagi kebanyakan orang. “Makna Idul Fitri ialah umat muslim mencapai kemenangan telah melewati segala nafsu yang dimiliki oleh manusia, seperti melatih diri untuk menahan lapar, haus, serta melatih kesabaran.” Ungakap Drs. Mahdi Supni, Kepala sekolah MTS Al-Hilal Jakarta (26/6). Sedangkan terhapusnya dosa yang dimiliki tidak dapat dipastikan karena hanya Allah Swt yang tahu.

Diberdayakan oleh Blogger.