Header Ads

Takbir Keliling: Momen Dakwah yang Jadi Ajang Lomba di Daerah

Oleh: Lajeng Padmaratri 

Menjelang datangnya tanggal 1 Syawal dalam kalender Islam, banyak cara dilakukan masyarakat Indonesia untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Tengok saja di Kota Pontianak, Kalimantan Barat yang mengadakan festival meriam di tepi Sungai Kapuas. Sedangkan, masyarakat Bengkulu memiliki tradisi membakar batok kelapa sebagai bentuk syukur. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan hendak mengadakan festival beduk dan gema takbir pada malam takbiran nanti, sekaligus merayakan HUT ke-490 DKI Jakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta juga tak mau ketinggalan, kota Gudeg ini memiliki tradisi unik menyambut Hari Raya.

Sejumlah warga Kota Bambu dalam Kelompok Gemar Takbir mengadakan takbiran di Kota Bambu VI, Jakarta Barat, 26/6. (Indra Purnomo)
 Mayoritas warga DIY telah lama memilih untuk mengadakan takbir keliling sebagai salah satu ciri khas menghidupkan malam Idul Fitri dengan syiar kumandang takbir, tahmid, dan tahlil. Uniknya, mereka tak hanya menjadikan momen takbir keliling sebagai media dakwah, akan tetapi ajang lomba antar masjid untuk memupuk tali silaturahmi. 

Menurut ajaran agama Islam, takbir menyambut hari raya dapat mulai dikumandangkan setelah matahari terbenam pada malam Lebaran hingga waktu shalat Idul Fitri. Meskipun Majelis Ulama Indonesia dalam maklumatnya menyatakan bahwa hukum melaksanakan takbir adalah sunnah, akan tetapi, beberapa masyarakat Yogyakarta lebih memilih mengumandangkannya dengan meriah.

“Takbir di malam Idul Fitri hukumnya sunah bagi setiap muslim. Takbir dapat dilaksanakan dengan sendiri maupun berjemaah. Dapat dilaksanakan di rumah, di masjid, di musala, maupun di jalan. Bisa dilaksanakan dengan duduk berdiam diri, berjalan, maupun berkendara,” ujar Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Na’im, seperti dikutip dari detik.com.

Salah satu daerah yang mengadakan lomba takbir keliling yaitu di Kabupaten Kulon Progo. Setiap tahunnya, masyarakat wilayah DIY bagian barat ini selalu mengadakan lomba takbir keliling yang ditangani oleh Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kota Wates, Kulon Progo. 


Suasana lomba takbir keliling di Kecamatan Wates Kulon Progo, 24/6. (Lajeng Padmaratri)
 Meskipun dilaksanakan di Kecamatan Wates, namun lomba takbir keliling ini dapat diikuti oleh masjid-masjid di kecamatan lain se-Kulon Progo. “Lomba takbiran oleh PHBI Wates terbuka untuk umum. Nanti bias memilih kategori, ikut TPA atau remaja,” ujar Ledy Dyah Indrayani (20), salah seorang panitia PHBI. Ia menjelaskan bahwa kategori TPA atau Taman Pendidikan Al-Quran dimaksudkan bagi anak-anak yang masih mengikuti pendidikan Al-Quran, sedangkan kategori remaja yaitu bagi pemuda-pemudi yang menjadi pengurus masjid.

Selain sebagai bentuk ibadah, takbir keliling juga menjadi sarana persatuan antar umat dan ajang silaturahmi. Dikemas dalam agenda lomba, takbir keliling diharapkan mampu menarik minat masyarakat sebagai salah satu sarana menyebarkan dakwah. Hal ini terbukti dengan banyaknya inovasi yang dilakukan oleh peserta saat mengumandangkan takbir. “Sekarang takbiran di sini sudah mulai inovatif. Seperti di Yogya (Kota Yogyakarta, red) sudah pakai drumband, pakai formasi, serta display-display. Dulu sini nggak ada, sekarang mulai ada,” tutur Ledy.

Jauh-jauh hari, panitia PHBI telah menyebarkan pamphlet ketentuan lomba di berbagai masjid di Kulon Progo. Setiap masjid yang mendaftarkan kelompoknya untuk lomba takbir keliling harus mengirimkan peserta minimal tiga puluh orang. Selanjutnya, mereka dipersilakan membawakan konsep takbir keliling secara bebas. “Lomba takbirannya nggak ada tema dan konsep tertentu sih, terserah peserta. Asalkan memenuhi persyaratan untuk penilaian saja,” tegas Ledy.

Sebagai bentuk penilaian, PHBI menurunkan tiga juri dari internal PHBI hingga tokoh masyarakat untuk proses penjurian atas penampilan takbir dari tiap-tiap kelompok. Aspek yang dinilai antara lain kerapian, kekompakan & lafal takbir, keserasian, kreativitas, serta kesopanan dalam perjalanan.

“Untuk rute takbir keliling dimulai dari halaman Kantor Pemerintahan Daerah berjalan ke barat melewati Alun-Alun Wates, lalu ke selatan menuju Kantor Pos Wates, kemudian masuk gang SD Muhammadiyah, lalu melewati Pasar Wates dan kembali ke Pemda,” jelas Ledy.

Ia menyarankan, bagi masyarakat yang hendak menyaksikan pawai lomba takbir keliling untuk datang lebih awal setelah waktu shalat Isyak tiba. Sebab, segera setelah iring-iringan kelompok takbir melintas, lalu lintas jalan raya yang menjadi rute lomba takbir keliling akan dialihkan oleh kepolisian setempat..
Beberapa kota lain di Indonesia memang menerapkan adanya larangan pelaksanaan takbir keliling, seperti di DKI Jakarta. Dilansir dari tirto.id, keberadaan pawai takbir keliling ini dikhawatirkan menimbulkan gangguan keamanan, kemacetan, hingga kecelakaan lalu lintas. Sebagai gantinya, kegiatan takbir pada malam Lebaran dipusatkan di masjid-masjid ataupun kantor-kantor pemerintah. Akan tetapi, nampaknya takbir keliling masih dapat dilaksanakan di daerah-daerah yang memiliki jalan raya yang lumayan lengang. Sehingga, risiko-risiko tersebut dapat dihindari. 

Editor : Kristi Dwi Utami
Diberdayakan oleh Blogger.