Header Ads

Perokok Wanita : Antara Kebebasan, Gaya Hidup dan Ancaman Kesehatan

Oleh : Jalu, Octarinda, Tiana, Ida, Dwi, Marcelina, Akbar
Ilustrasi perokok wanita. (tribunnews.com)
Pada peringatan Hari Tanpa Tembakau, 31 Mei 2016 lalu, Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Nila Moelek mengungkapkan keprihatinanya terhadap peningkatan jumlah perokok wanita di Indonesia. Tercatat, peningkatan tersebut sebanyak 2,6%.
Peningkatan ini membuktikan bahwa aktivitas merokok yang identik dengan kaum adam, kini sudah menjadi hal lumrah bagi para wanita. Mereka sudah tidak lagi sungkan untuk menunjukan bahwa dirinya adalah seorang perokok. Selain itu, merokok bagi para wanita juga dimaknai sebagai bentuk pengekspresian dan pemberontakan terhadap pengekangan publik.

Hal tersebut diungkapkan oleh Penasihat Nasional Komisi Pengendalian Tembakau, Kartono Muhammad pada 2013 silam. “Perempuan itu banyak merokok dipengaruhi pacarnya, teman, dan merasa bahwa merokok itu adalah freedom, liberalisasi,” ujar Kartono yang disadur dari beritasatu.com.

Kartono menambahkan bahwa sebelumnya perempuan yang merokok diasosiasikan sebagai suatu hal yang negatif. Oleh sebab itu, mereka mulai memberontak dan mengekspresikan diri dengan menunjukan langsung kepada publik. Mereka ingin membuktikan bahwa tak selamanya wanita yang merokok selalu identik dengan kesan negatif.

Ancaman Kesehatan dan Stigma dalam Masyarakat



Aktivitas merokok yang sudah lumrah di kalangan wanita tentu tak lepas dari adanya gaya hidup yang mereka jalani. Namun, yang patut menjadi garis besar adalah ancaman kesehatan stigma buruk bagi perokok wanita jauh lebih besar dibanding perokok laki-laki.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr Rachel Huxley dari University of Minnesota dan Dr Mark Woodward dari Johns Hopkins University, Baltimore yang dikutip dari Kompas.com menunjukan bahwa perokok wanita menghadapi resiko 25 persen lebih tinggi terkena penyakit jantung dibandingkan dengan pria yang merokok dan berisiko dua kali lipat terkena kanker paru-paru dibandingkan dengan pria perokok.

Kesimpulan tersebut didapat dari hasil metaanalisis terhadap 86 studi internasional yang melibatkan 2.4 juta orang menambah bukti bahwa kesehatan perempuan yang buruk dipengaruhi oleh merokok. Peningkatan risiko pada wanita lebih besar daripada pria, dimungkinkan karena perbedaan fisiologis di antara mereka. Berat badan dan pembuluh darah yang lebih kecil merupakan faktor kunci, kata peneliti.

Amanda Sandford, manajer riset grup antirokok, Action on Smoking and Health (ASH) mengatakan "Kami tahu bahwa wanita perokok lebih berisiko terkena kanker paru-paru, tapi ini adalah pertama kalinya ada bukti bahwa wanita perokok juga lebih rentan menderita penyakit jantung dibanding pria."

Dr Tony Falconer, Presiden Royal College of Obstetricians dan Gynaecologists (RCOG) mengatakan, risiko yang dimiliki wanita akibat rokok tidak hanya berhenti sampai penyakit jantung dan kanker paru-paru. Selama kehamilan, kebiasaan merokok bisa mengakibatkan berat badan bayi lahir rendah, peningkatan risiko kelahiran prematur atau lahir mati.

Meski ancaman kesehatan sudah jelas mengintai, namun para perokok wanita masih abai terhadap hal tersebut. Salah satunya diungkapkan oleh Mawar (nama samaran). Dara 19 tahun yang sudah mulai merokok sejak kelas 2 SMP ini mengatakan bahwa dirinya tahu akan bahaya merokok terhadap kesehatan. Namun, dia tidak terlalu memikirkan hal tersebut. “Tahu sih (bahaya rokok), cuma aku mikirnya yaudah,” ujar Mawar.

Tanggapan serupa juga dilontarkan oleh Bunga (nama samaran). Mahasiswi salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta ini juga tahu tentang dampak negatif dari rokok. Bahkan dirinya sempat berhenti merokok ketika duduk di bangku SMA. “Tahu sih, dulu juga sempat berhenti ketika SMA, tapi ya karena kepengen jadi balik lagi,” ungkapnya.

Tidak hanya ancaman dari segi kesehatan. Stigma dalam masyarakat terkait perokok wanita tentu menjadi pro kontra. Ibarat dua mata uang, tanggapan masyarakat tentu ada yang mendukung, ada pula yang menolak.

Menurut Nafian Alma Arif (40), perokok wanita dari segi moral, tingkah laku orang Jawa, tata krama orang Jawa itu salah. “Bukan kodratnya bagi wanita, atau bisa dikatakan saru,” ujarnya.

Tanggapan berbeda dilontarkan Yoga Arya Seta (28). Menurutnya merokok adalah hak setiap orang. ”Hak dia mau ngerokok atau engga toh dia beli sendiri, dan alasan dia ngerokok apa dulu, misalnya kayak aku nih yaa biar enak pas lagi nyari ide atau mikir ya gapapa, asal gak karena menjadikannya gaya hidup untuk dipamerkan, itu engga banget,” kata Yoga.

Alasan Merokok

Menjadi perokok seperti halnya Bunga dan Mawar tentu tidaklah tiba-tiba. Pastinya ada alasan yang melatar belakangi mereka menjadi perokok.

Disinggung mengenai alasan dirinya merokok, Mawar mengungkapkan bahwa hanya berawal dari ikut-ikutan.“Awalnya karena lingkungan dan temen – temenku yang kebanyakan laki – laki, kan temenku itu pada merokok jadi kepengen coba aja. Terus kalau lagi ada masalah aku ngerokok lagi dan jadi kebiasaan sampai nggak bisa berhenti,” ujar Mawar.

Hal senada diungkapkan oleh Bunga. Gadis 18 tahun ini berujar bahwa awalnya hanya ikut-ikutan. Namun, lama-kelamaan menjadi ketagihan dan berlanjut hingga sekarang.

Perokok Wanita Pertama di Indonesia

Rara Mendut yang diceritakan sebagai perokok pertama di Nusantara. (arekubl.blogspot.com)

Masih terkait dengan masalah wanita dan rokok. Sebenarnya jauh sebelum Indonesia merdeka ada sebuah kisah tentang wanita perokok pertama di bumi nusantara, yaitu Rara Mendut. Bersumber dari http://setkab.go.id, dikisahkan bahwa dalam Babad Tanah Jawi, Kadipaten Pati yang dipimpin Adipati Pragola memberontak kepada Sultan Agung bersama Tumenggung Wiraguna dari Kerajaan Mataram.

Singkat cerita pasukan Mataram menang dan menewaskan Adipati Pragola yang kemudian seluruh harta termasuk istri-istri si Adipati menjadi rampasan perang. Salah satu istri rampasan yaitu Rara Mendut yangmerupakan selir kesayangan Adipati Pragola diserahkan kepada Tumenggung Wiraguna, namun wanita tersebut menolak.

Sakit hati dengan penolakan Rara Mendut, dengan dalih menegakkan harga diri Mataram yang telah berhasil menumpas pemberontakan Pati, Tumenggung Wiraguna mengharuskan Rara Mendut membayar pajak yang tinggi.

Tak memiliki harta karena seluruh kekayaan Pati telah dirampas Mataram, Rara Mendut tidak kehabisan akal. Berbekal kecantikan dan kemolekannya, Rara Mendut mencari uang dengan menjual rokok yang dia rekatkan dengan ludahnya dan telah dia hisap.

Kaum laki-laki yang tergila-gila dengan perempuan itu pun rela membeli mahal rokok bekas lidah dan hisapan Rara Mendut. Kisah erotisme Rara Mendut dengan rokoknya itu masih dikenal hingga saat ini.
Diberdayakan oleh Blogger.