Berawal Swasembada Pangan Kini Menjadi Swasembada Asap, Pergeseran Citra Indonesia Di Asia Tenggara
![]() |
| Ilustrasi kebakaran hutan yang melanda wilayah kalimantan. (Sumber: Vlad Aivazowsky/Pexels) |
Yogyakarta, Sikap - Masyarakat Indonesia rasanya tidak akan pernah lepas dari media sosial. Akhir-akhir ini, saat melihat berita, ada satu topik yang seolah selalu muncul dalam headline news yaitu kebakaran hutan. Selama beberapa tahun terakhir, berita tentang kebakaran hutan di berbagai wilayah Indonesia tidak pernah absen. Kadang terasa lelah melihat hutan yang begitu lebat, penuh ekosistem dan sumber daya, berubah menjadi abu dalam sekejap oleh api yang membara.
Bisa dibayangkan bagaimana kondisi hutan Indonesia seperti di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan wilayah lainnya yang sering dilanda kebakaran hutan tanpa habisnya. Wilayah yang hijau, sejuk, dan penuh kekayaan alam bisa berubah seketika menjadi neraka yang penuh api hingga makhluk hidup yang tinggal di dalamnya ikut terbakar. Sungguh menyayat hati melihat lingkungan sekitar perlahan dilahap kobaran api yang datang begitu saja.
Melansir dari IDN times, Salah satu wilayah yang paling terdampak tentu saja Kalimantan. Di Kalimantan Barat saja, luas hutan dan lahan yang terbakar sejak awal tahun sampai Agustus 2026 sudah mencapai sekitar 38 ribu hektare. Ketapang, Kubu Raya, sampai Mempawah menjadi beberapa wilayah yang cukup parah dan ikut menyumbang kabut asap.
Angka 38 ribu hektare itu sebenarnya sudah susah dibayangkan. Bisa disebut berkali-kali, tetapi tetap saja pada akhirnya angka hanyalah angka. Yang lebih terasa adalah ketika asap mulai mengganggu jarak pandang, aktivitas masyarakat terganggu, sekolah harus memikirkan ulang kegiatan belajar, dan orang-orang mulai kembali memakai masker bukan karena pandemi, tetapi karena udara yang mereka hirup sendiri sudah tidak bersahabat.
Hal yang membuatnya semakin miris, ini bukan cerita yang benar-benar baru. Setiap kemarau datang, seolah sudah tahu apa yang akan muncul setelahnya, yaitu titik api, lahan terbakar, kabut asap, lalu berita tentang upaya pemadaman. Siklusnya berulang terus menerus, Bedanya mungkin hanya lokasi dan seberapa besar kali ini apinya.
Tentu saja banyak masyarakat yang geram karena beberapa waktu lalu Bareskrim Polri ternyata melaporkan adanya kebakaran hutan yang disengaja oleh beberapa manusia yang tidak bertanggung jawab. Itu semua terjadi secara bersamaan dan ditemukan bekas BBM yang ada di daun, ranting, dan batang pohon yang membuktikan dengan jelas bahwa kebakaran memang sengaja dilakukan. Janggalnya, banyak kebakaran itu terjadi di titik-titik strategis yang sangat penuh akan sumber daya alam.
Motifnya adalah area-area hutan tersebut sengaja dibakar untuk membuka lahan perkebunan sawit. Sungguh mengerikan ketika membayangkan betapa kejamnya manusia karena mengorbankan banyak nyawa dan kekayaan Indonesia hanya untuk kepentingan kelompok tertentu, yang sudah jelas risikonya adalah kerusakan alam di daratan maupun di udara.
Pertanyaannya adalah bagaimana nasib anak cucu nanti ketika tempat kelahiran mereka yang dulu merupakan salah satu bangsa terkuat di Asia Tenggara sekarang justru menjadi hancur lebur karena merawat lingkungan dan kekayaan alam saja tidak bisa.
Sepintas teringat satu kata yang dulu cukup sering didengar dalam cerita pembangunan Indonesia, yaitu swasembada. Swasembada pangan pernah menjadi sesuatu yang dibanggakan. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tentu punya alasan untuk merasa percaya diri.
Pada tahun 1985, Indonesia pernah mencapai titik tertinggi dalam swasembada beras dan diakui oleh negara-negara di Asia Tenggara, bahkan dunia, karena berhasil mengimpor jutaan ton beras serta mempunyai citra kuat di mata dunia karena kedaulatan pangan yang sangat kuat. Sungguh kejayaan yang diharapkan bisa terulang lagi.
Tapi melihat keadaan hari ini, terlintas sesuatu yang agak getir. Jangan-jangan Indonesia sedang benar-benar mandiri dalam satu hal, yaitu menghasilkan asap dari hutannya sendiri.
![]() |
| Potret petugas pemadam api kebakaran hutan yang sedang menghadapi kobaran api. (Sumber: Instagram @kabarbintaro) |
Karena belakangan ini Indonesia juga terlihat cukup mandiri. Hutan terbakar dari wilayah sendiri, asap diproduksi sendiri, lalu sebagian bahkan ikut terbang ke negara tetangga. Malaysia dan Singapura sampai harus ikut berurusan dengan kabut asap yang berasal dari kebakaran di wilayah Indonesia. Pemerintah pun melakukan komunikasi dengan negara-negara tersebut karena dampaknya sudah melewati batas wilayah sendiri.
Kalau begitu, mungkin istilahnya memang perlu sedikit diperbarui. Dulu swasembada pangan. Sekarang swasembada asap hutan.
Terdengar seperti lelucon yang kelewat dipaksakan. Tapi sulit juga menganggapnya lucu ketika produk tersebut sudah sampai ke negara tetangga. Bedanya, tidak ada yang memesan dan tidak ada yang ingin menerimanya.
Dan di sinilah letak ironinya. Indonesia dulu ingin dikenal sebagai negara yang mampu berdiri dengan kaki sendiri. Sekarang, tanpa diminta, justru mampu membuat masalah yang ikut dirasakan orang lain.
Masalahnya, asap ini akhirnya ikut membawa nama Indonesia ke mana-mana. Bukan dalam arti yang bagus. Malaysia dan Brunei mulai menyampaikan kekhawatiran karena dampak karhutla Indonesia sudah terasa di wilayah mereka. ASEAN pun mulai ikut kerepotan menghadapi persoalan yang sebenarnya berulang setiap kali kebakaran besar terjadi.
Menariknya, negara-negara tetangga tidak serta-merta datang lalu menyalahkan Indonesia begitu saja. Mereka masih memilih jalur ASEAN dan tetap berhati-hati karena ada prinsip kedaulatan dan non-intervensi yang selama ini dijunjung di kawasan. Masalahnya, sikap hati-hati ini jangan sampai dianggap sebagai tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Mereka mungkin tidak banyak bicara, tetapi bukan berarti tidak terdampak.
Di sinilah persoalan asap ini mulai menjadi lebih besar dari sekadar urusan lingkungan. Setiap kali asap melewati perbatasan, yang ikut terbawa sebenarnya bukan cuma partikel dari hutan yang terbakar. Nama Indonesia juga ikut terbawa.
Indonesia tentu ingin dikenal sebagai negara yang punya peran besar di ASEAN. Indonesia ingin punya posisi yang diperhitungkan, didengar, dan dipercaya ketika membicarakan persoalan kawasan. Tapi akan terasa ironis kalau di saat yang sama negara tetangga justru harus berulang kali berhadapan dengan dampak dari masalah yang berasal dari wilayah Indonesia sendiri.
Apalagi ASEAN bukan kumpulan negara yang hidup sendiri-sendiri. Negara-negara di dalamnya tinggal bersebelahan, berbagi udara, laut, hutan, dan banyak persoalan yang memang tidak mengenal batas negara. Karena itu, ketika asap Indonesia sampai ke Malaysia atau Brunei, persoalannya sudah bukan lagi sekadar Indonesia sedang punya masalah.
Itu sudah menjadi masalah bersama. Dan mau tidak mau, cara Indonesia menyelesaikannya akan ikut menentukan bagaimana negara lain melihat Indonesia.
Jangan sampai Indonesia sibuk membangun citra sebagai negara besar di kawasan, sementara yang paling mudah dikenali dari Indonesia justru kabut asapnya.
Lalu setelah semua ini, apa yang harus dilakukan? Rasanya tidak cukup hanya sibuk memadamkan api setiap kali hutan terbakar. Yang perlu dibereskan juga adalah apa yang ada di balik apinya. Penegakan hukum harus benar-benar jalan, terutama kalau memang ditemukan pembakaran yang sengaja dilakukan untuk membuka lahan. Jangan sampai yang terus dikejar hanya apinya, sementara orang yang menyalakan api malah hilang setelah padam.
Hutan juga perlu mulai dilihat bukan sebagai lahan kosong yang tinggal dibuka ketika ada kepentingan ekonomi. Selama membuka lahan dengan cara membakar masih dianggap lebih mudah dan murah, kejadian seperti ini akan terus punya alasan untuk berulang. Memadamkan kebakaran penting, tetapi mencegahnya sejak awal jauh lebih masuk akal.
Soal citra Indonesia di luar negeri juga tidak perlu diperbaiki dengan terlalu banyak pernyataan. Tidak perlu sibuk meyakinkan negara tetangga bahwa Indonesia peduli lingkungan kalau kenyataannya asap masih berulang kali sampai ke halaman mereka. Citra negara pada akhirnya dibangun dari tindakan, bukan dari apa yang dikatakan di forum internasional.
Persoalan ini memang tidak bisa langsung dihapus. Tapi setidaknya bisa dimulai dari hal yang paling sederhana, yaitu berhenti menganggap kebakaran hutan sebagai sesuatu yang biasa. Karena selama kebakaran hutan dianggap sebagai rutinitas setiap musim kemarau, jangan heran kalau negara lain juga mulai menganggap asap Indonesia sebagai sesuatu yang rutin mereka terima. (Faiz Hasyfi Fahimsyah)
Editor: Romadhon


Tulis Komentarmu