Header Ads

Warisi Kepiawaian Mengolah Tanah Liat

Warga pendatang yang membuka usaha di Desa Wisata Kasongan dan pengrajin gerabah tidak pernah menganggap satu sama lain sebagai pesaing. Bahkan banyak di antaranya yang saling bekerjasama untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Bahkan di antara pengrajin pun tidak memerlukan pelatihan khusus untuk membuat gerabah. Keahlian mengolah tanah liat para pengrajin di Kasongan telah diwariskan secara turun temurun. Sebab, sudah sejak dulu desa wisata ini menjadi tempat tinggal para kundi (pengrajin tanah liat). 

“Anak seorang pengrajin tidak perlu belajar secara khusus untuk mengolah tanah liat. Secara tidak langsung pasti akan bisa dengan sendirinya. Karena semenjak saya lahir, saya sudah bermain dengan tanah dan melihat proses pengolahan tanah liat dari kakek dan yah saya,” kata Pangat, salah seorang pengrajin di Kasongan saat ditemui pada beberapa waktu lalu. Menurutnya, keahliannya dalam mengolah tanah liat merupakan warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. 

Pangat, pengrajin gerabah di Kasongan sejak 30 tahun lalu. (Foto: Irene Oktavia)
Pengrajin yang telah menekuni dunia seni kriya sejak 30 tahun lalu ini juga mengajarkannya kepada anak-anaknya. Awalnya, kakek dan ayahnya hanya membuat peralatan rumah tangga saja seperti piring, kendi, guci, tempayan, anglo, dan kuali. Namun, seiring perkembangan zaman, dunia seni kriya pun ikut berkembang. Pria berusia 62 tahun itu sekarang bisa membuat celengan dengan berbagai bentuk, topeng dengan berbagai ekspresi, bahkan gerabah berbentuk katak berukuran besar untuk hiasan kolam.

“Yang istimewa dari kerajinan gerabah Kasongan dengan daerah lain adalah adanya ornamen yang lebih detail. Pengrajin asli Kasongan juga lebih terampil untuk mengolah tanah liat menjadi berbagai bentuk yang baru,” jelas Pangat dengan bangga sambil merapikan ukiran patung kataknya. 

Biasanya Pangat akan mulai membuat kerajinan gerabah saat ada pesanan dari reseller. Meski begitu, ia juga memproduksi untuk stok di rumahnya saja. Ia biasa bekerja sendiri, namun ketika mendapat pesanan dalam partai besar, ia akan meminta bantuan keluarganya yang semuanya merupakan pengrajin gerabah. Meskipun penghasilan seorang pengrajin gerabah tidak dapat diprediksi, Pangat mengaku tidak bisa mencari pekerjaan lain, karena hanya mengolah tanah liatlah keahlian dan penghasilan utamanya. (Azura Aulia Azahra)

Editor: Lajeng Padmaratri
Diberdayakan oleh Blogger.