Header Ads

Peluang Terbuka Lebar, Minat Mahasiswa 'Student Exchange' Tinggi

Program pertukaran mahasiswa dari Aiesec. (Dok. Aiesec)

      Peluang mahasiswa untuk mengecap studi ke luar negeri semakin mudah. AIESEC, sebuah organisasi internasional untuk pemuda yang membantu mengembangkan kemampuan kepemimpinan, menyediakan beberapa program pertukaran mahasiswa. Jonathan Ernest Sirait, Vice President of Outgoing Global Volunteer, menuturkan ada tiga program pertukaran studi. Masing-masing program menawarkan pengalaman, tantangan, dan tentu manfaat yang berbeda, yaitu Global Volunteer, Global Talent, dan Global Entrepreneur.

      Dari ketiga program yang ada, Global Volunteer-lah yang menjadi unggulan AIESEC. Program tersebut merupakan proyek sosial yang berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau disebut dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah dicanangkan oleh PBB pada tahun 2015 yang lalu. Biasanya durasi program berkisar 6-8 minggu.

      Sejauh ini jumlah mahasiswa yang mengikuti seleksi dan lolos seleksi pun cenderung stabil. “Bisa dibilang stabil. Ada kalanya di peak summer, yaitu Juni, Juli, dan Agustus, lebih banyak jumlah partisipannya daripada peak winter di bulan Desember, Januari, dan Februari, begitu juga sebaliknya,” jelasnya. Jonathan juga menambahkan bahwa peminat program ini mayoritas mahasiswa semester satu sampai empat. Meski begitu, ada juga mahasiswa semester akhir yang bergabung untuk mengisi waktu luang.

      Jonathan yang juga returnee Global Volunteer di Thailand, mengaku mendapatkan banyak sekali ilmu dari program sukarelawannya itu. Selama di Thailand, Jonathan mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak TK sampai SD selama enam minggu di Sekolah Ban Samorthong yang terletak di Provinsi Uthaitani.

      Selain mengajar, Jonathan juga mengikuti kegiatan Global Village yang diikuti seluruh exchange participant untuk mengenalkan budaya dari negara masing-masing. Di saat itulah Jonathan manfaatkan untuk mencari teman baru dan mengeksplorasi Thailand.

Jonathan mengajar bahasa Inggris di Sekolah Ban Samorthong, Thailand. (Dok. Jonathan)

      “Ilmu yang saya dapatkan banyak banget, baik itu soal budaya, agama, personality orang maupun soal sistem pembelajaran di Thailand, bagaimana kehidupan sehari-hari orang Thailand. Tak hanya itu, saya juga belajar tentang negara-negara lainnya karena pertemanan yang saya dapatkan dari proyek ini,” papar Jonathan.

Pertukaran Budaya melalui Film Pendek

      Berbeda dengan program pertukaran yang ditawarkan AIESEC, ada satu program pertukaran lagi yang menjadi primadona mahasiswa Ilmu Komunikasi, yaitu d’CATCH. D’CATCH merupakan kegiatan yang berkonsentrasi dengan komunikasi lintas budaya. Partisipan diajak menyamakan pemahaman dari berbagai budaya melalui sebuah film pendek. Program d’CATCH saat ini diikuti oleh lima negara di Asia Tenggara: Thailand, Jepang, Cina, Filipina, dan Indonesia. Keikutsertaan Indonesia dimulai sejak tahun 2013, diawali ketika menjadi tamu selama dua tahun berturut-turut sebelum akhirnya menjadi anggota tetap di tahun 2015.

      Dosen pendamping tim d’CATCH, Senja Yustitia, menyampaikan peminat d’CATCH setiap tahunnya tidak menentu. Hal ini dikarenakan pertimbangan biaya, mengingat pembiayaan peserta selama kegiatan bersifat mandiri. Meski begitu, ada dua dari lima negara yang menjadi favorit, yaitu Jepang dan Thailand. Setelah menjadi anggota tetap d’CATCH, Indonesia rutin mengirimkan peserta rata-rata lima belas orang setiap tahunnya.

      Senja sangat merekomendasikan mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini karena d’CATCH merupakan kesempatan besar untuk mengasah kemampuan berkomunikasi serta menambah wawasan, “Secara general (pengalaman yang didapat) itu ada dua. Pertama kemampuan berkomunikasi dan beradaptasi dalam lingkup komunikasi antar budaya. Dan yang selanjutnya yaitu wawasan global semoga sih bertambah karena sudah ke luar negeri, ketemu temen dari berbagai negara,” jelasnya.

Kegiatan d'CATCH 2018 di Thailand awal tahun ini. (Dok. d'CATCH)

      Salah satu peserta d’CATCH 2018 di Bangkok, Thailand, Monica Naomi Sitorus, mengaku dirinya mendapat banyak sekali ilmu dan pengalaman yang didapat, mulai dari memproduksi film sampai menjalin pertemanan dengan peserta lain dari negara yang berbeda.

      “Bagiku dengan mengikuti d’CATCH ini sih menjadikan relasi kita bertambah, terkhususnya relasi international kita menjadi luas,” tutur Monica.

      Perempuan itu juga berpesan untuk mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta yang berminat mengikuti d’CATCH tahun depan di Nanjing, China untuk menabung terlebih dulu. “Jangan pernah takut kalau ga bisa ngomong bahasa inggris!” pungkasnya. (Aqmarina Laili)

(Editor: Lajeng Padmaratri)
Diberdayakan oleh Blogger.