Header Ads

Media Massa, Digitalisasi, dan Bisnis


Oleh: Mufqi Rafif D.

      Ketika teknologi dewasa ini sangat jauh melejit menyesuaikan arus globalisasi yang semakin gila, segala aspek kehidupan juga turut terbawa arus. Kegilaan atas arus dunia yang menggema, kita hanya dihadapkan pada dua pilihan: survive atas derasnya arus, atau memilih ‘buta’ yang berarti gagal melawan seleksi alam.

      2018, tidak sedikit media nasional yang pindah ‘kamar’ karena karya-karya yang lahir dari seniman kata-kata tak lagi mempunyai pasar di  media konvensional. Karena ketika berbicara bisnis, yang ada hanyalah untung dan rugi. Tengok saja Rolling Stones Indonesia yang berhenti mencetak majalah memasuki tahun 2018 ini, menyusul majalah Hai dan High End Teen yang stop terbit pada 2017 lalu.

      Media online yang datang bersama arus globalisasi yang gila seolah menyambut pimpinan redaksi untuk segera membuat sebuah museum berisi mesin cetak massal ala media konvensional. Memang mengerikan, tapi seleksi alam adalah sebuah kepastian. Yang membedakan hanyalah bagaimana kita bersikap.

      Meskipun terbawa dari arus yang gila, namun media online datang bagaikan sesuatu seperti yang telah kita kenal sebelumnya. Adaptasi atas teknologi sebelumnyalah yang membuat kita semakin meyakini bahwa media online adalah pilihan yang tepat di tengah globalisasi.

      Ketika peralihan dari konvensional ke online adalah keniscayaan, maka berada pada masa transisi membuat banyak media harus memutar otak dan mengulang proses untuk mencari jati diri atau karakter media. Karena pola antara media konvensional dan media online sangatlah berbeda.

      Ketika konvensional berlomba-lomba untuk mencari angle terbaik dalam suatu topik karena hampir setiap media konvensional terbit pada pagi hari, sedangkan dalam media online saya rasa lebih mengejar aktualitas yang setiap detiknya sangat berharga. Meskipun begitu, sampai detik ini media konvensional juga masih mempunyai pasar, walau permintaan pasar sudah tidak sebesar sebelum negara online menyerang. Tapi saya rasa, jika sebuah media hanya mengandalkan cetak dan melupakan online, sama saja dengan bunuh diri.

Pindah Online Bukan Tanpa Masalah






      Fase transisi manakah yang tidak membutuhkan sebuah adaptasi? Bukan berarti setelah pindah ‘kamar’ segala permasalahan dalam transisi usai. Bahkan muncul polemik-polemik yang lebih rumit. Memang globalisasi ditakdirkan seperti itu, memudahkan di awal namun dalam cerita akhir tetap saja menimbulkan kerumitan.

      Polemik netizen dengan segala paham maha benarnya. Ketika dalam media konvensional tidak dijumpai kolom komentar kecuali kolom kritik dan saran, di media online dengan hadirnya masyarakat internet, sebuah pemberitaan dalam suatu media bisa saja tidak tertebak dalam beberapa menit ke depan setelah publish. Memang hanya masalah waktu. Ketika media konvensional membutuhkan waktu satu hari untuk merespon, namun media online setiap saat pun dapat melakukan respon secara langsung.

      Belum lagi polemik kreativitas pekerja deadline. Apa yang dikejar media ketika menggantungkan pasar dari tulisan berbentuk hardnews? Aktualitas. Satu detik sangatlah berharga. Kecuali media dengan tulisan berbentuk feature dan semacamnya. Saat ini, melalui kacamata saya, banyak media-media yang asal comot data dari media yang memang niat mengejar kualitas. Menggunakan rumus ATM (amati, tiru, modifikasi), dalam satu topik, tanpa harus ‘bertarung’ ke lapangan, seorang wartawan bisa mengutip dari media lain dengan gaya bahasa yang sudah diedit sedemikian rupa seolah-olah dia benar-benar terjun ke lapangan. Memang tidak semua, tapi ada.

      Tak ketinggalan, masalah hak cipta semakin merumit dengan adanya media online. Seperti kalimat yang sudah saya tulis di atas, memang globalisasi awalnya menawarkan kemudahan dengan asal main comot. Namun di akhir cerita bisa saja berurusan dengan yang berwenang karena melanggar peraturan-peraturan yang berlaku. Lagi-lagi, memang tidak semua, tapi ada.

      Dalam sebuah kesempatan, Zen R.S yang merupakan editor at large dari media online Tirto.id pernah mengatakan bahwa clickbait semakin tidak berjalan sesuai jalan yang seharusnya. Menurut pria yang juga merupakan founder dari Fandom.id tersebut, sejatinya clickbait adalah seni. Seni dalam mengolah perpaduan diksi yang cocok sebagai magnet bagi pembaca untuk tertarik dengan tulisan. Namun di era sekarang, definisi clickbait yang semestinya sebagai seni justru terbalik menjadi magnet yang tidak berseni sama sekali. Dalam pembuatan judul yang seharusnya menggunakan diksi-diksi yang indah justru tercoreng dengan kata “Inilah...!!!” “Heboh!!!” dan sebagainya.

       Kemajuan zaman adalah kepastian. Tantangan adalah teman yang pasti. Konvensional bukan berarti ‘salah’. Bisnis berhubungan dengan pasar. Konten-konten yang tersebar dalam media massa bisa jadi semakin mengerikan. Hingga efek yang ditimbulkan layaknya sebuah cermin.

      Sebab pada akhirnya, bisnis bukan semata demi uang, tapi juga (harus) demi nurani. Selamat Hari Pers Nasional, 9 Februari 2018.
Diberdayakan oleh Blogger.