Header Ads

Menjadi Seorang Poliglot? Why Not?

Ilustrasi Polyglot (By: Sekar Rahayu)

      Manusia menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Bahasa juga berfungsi sebagai media untuk mengekspresikan perasaan. Selain itu, manusia kerap mengkombinasikan bahasa dengan unsur lain seperti mimik wajah, gerakan tubuh, dan hal lain guna mendukung proses penyampaian pesan yang dimaksud.

     Setidaknya ada 193 negara berdaulat yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Tentu dalam setiap negara memiliki lebih dari 1 bahasa. Berdasarkan situs Ethnologue yang berisi katalog-katalog bahasa-bahasa di dunia, Indonesia memiliki sekitar 700 bahasa. Selain itu Ethnologue juga mencantumkan daftar bahasa di dunia ada 1 bahasa buatan, 82 bahasa kreol, 17 bahasa pidgin, 130 bahasa tunarunggu, 23 bahasa campuran, 50 bahasa isolat, dan 73 bahasa tak dikenal. 

      Ketika kita berbicara tentang keberagaman bahasa, pasti kita tidak asing dengan istilah poligot. Poliglotisme adalah kemampuan menuturkan beberapa bahasa dengan sangat mahir. Soekarno, Presiden pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah seorang poliglot dengan kemampuannya yang fasih menuturkan bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Arab, dan Jepang. Selain itu ada Graca Machel, istri mantan Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela yang fasih dengan 7 bahasa, yaitu Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Portugal, Spanyol, dan Tsonga.

      Proses dalam mempelajari sebuah bahasa memerlukan elemen-elemen pendukung. Kemahiran menguasai bahasa dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti konsistensi pembelajaran, intensitas, dan kepercayaan diri. “Awalnya belajar bahasa Inggris karena itu bikin belajar budaya mereka juga. Setelah itu bahasa Jerman, karena aku memang punya beberapa teman dari sana dan kepribadian mereka unik-unik,” ucap Vita Maulidina Pratiwi (20), mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

      Selain bahasa Inggris dan bahasa Jerman, Vita mengaku jika dia tertarik dengan bahasa Perancis. Fokusnya pada sinematografi dan budaya Perancis. Sampai sekarang dia masih sering berkomunikasi dengan penutur asli bahasa-bahasa tersebut. Menurutnya, dengan belajar sebuah bahasa minimal 2 jam per hari akan sangat membantu. Media yang dominan digunakan adalah film dan musik.

      Tidak ada patokan resmi berapa jumlah bahasa yang harus dikuasai untuk menyebut seseorang itu poliglot. Kinerja otak seorang poliglot cenderung cepat beradaptasi dengan budaya yang berbeda. Banyak manfaat nyata ketika kita mengerti bahasa asing. Contohnya seperti memperluas konektivitas, memperbesar peluang untuk berhubungan dengan negara lain, atau bahkan sangat bermanfaat untuk tujuan tertentu seperti beasiswa.

      Tim Doner, penutur 20 bahasa berkata dalam videonya, Breaking the languange barrier, yang diunggah oleh akun TEDx Talk (YouTube) pada 9 Maret 2014, bahwa bahasa adalah tentang berkomunikasi dengan orang lain, untuk melampaui batas budaya dan menemukan humanisme. Karena memang sangatlah mudah mengartikan sebuah kalimat, tetapi belum tentu kita mengerti akan makna dari bahasa tersebut. Beberapa tahun lalu Tim berhasil mendapat julukan sebagai hyperpolyglot termuda di dunia. 

      Bagi sebagian orang belajar bahasa bisa sangat memusingkan. Hal ini dituturkan juga oleh Cicilia Dwi Setyorini (37), Dosen Bahasa Inggris di 2 universitas berbeda, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta dan Universitas Gajah Mada (UGM). Pengalaman mengajarnya selama lebih dari 10 tahun membuatnya paham akan karakteristik learner. Metode belajar paling efektif menurutnya adalah by practice it. Di tiap kelasnya, dia menggunakan sistim cooperative learning yang memfokuskan pada diskusi mahasiswa.

      “Grammar itu by time, by process. Itu akan terbentuk ketika kita banyak reading dan writing,” tambahnya menyangkut soal aturan penulisan (grammar). Kemampuan berbahasa semakin banyak membawa keuntungan bagi seseorang. Kepercayaan diri juga akan terbentuk ketika kita sering berbicara. 

      Ada 3 tips yang disarankan ketika belajar sebuah bahasa. Pertama, bergabungan dengan komunitas yang tepat. Kedua, berani untuk salah. Ketiga, mengekspos diri dengan sering melatihnya. “Kalau setiap hari intens dipelajari, dalam setahun saja pasti sudah sangat berkembang, baik listening, reading, speaking, dan writing,”, ujarnya. (Rahayu Sekar Jati)


(Editor: Mufqi Rafif)
Diberdayakan oleh Blogger.